Desain backdrop untuk teman – teman Fisika Teknik ITB yang mengadakan Lomba Perancangan Instrumentasi dan Kontrol. Tentang lomba tersebut bisa kamu lihat di http://www.lpik-tfitb.com/
Entah aku harus berterimakasih atau memburumu
karena kutukan yang semakin hari semakin membebani
atau yang semakin hari semakin menguap dan menyatu dengan angin
Tidak pernah aku demikian bersyukur akan jutaan jarum yang menusuk
Lihatlah aku tersenyum
selalu tersenyum dan ingin selalu melakukannya
senyum tetap sebuah senyum bahkan dalam kegelapan
itu katamu
Aku terus berusaha menguburnya
tetapi mayat hidup selalu berjalan dan terbangun saat yang lain terlelap
liangnya lebih dalam dari sumur apapun
kalau melihat ke dalam kau akan tertarik jatuh
terperosok ke dalam permainan yang belum dikenal siapapun
tikungannya penuh kerahasiaan juga penasaran abadi
Aku haus dan kamu tahu itu
Aku lapar dan aku yakin kamu juga tahu itu
Bukankah serigala yang lapar selalu lebih berbahaya
atau ia tidak lebih jinak daripada badut bertopeng
yang tersenyum di balik topeng tangis
Kamu pun tahu aku benci topeng
Ikat tanganku juga tungkai – tungkai yang lain
karena saat membelit mereka enggan melepas
dan kadang lupa bahwa saat tulang terlepas dari sendinya
itu menyakitkan
Apa artinya rasa sakit saat syaraf belajar untuk berpura – pura tidak tahu
juga terbiasa untuk menikmati sambil menyayat
Selalu ada batas bahkan untuk telinga dan suara
Ia bisa pecah kapan saja
Rapuh sekali sebagaimana pijakan yang tak berbentuk ini
sebuah timbangan yang tidak pernah kita ketahui kapan seimbang tercapai
karena ia mempermainkan nilai dan mengacau rasa
Apa yang aku perjuangkan dalam dunia yang terlalu damai
sebuah senyum anehnya terasa begitu mahal dan jauh untuk dinikmati
lalu momen di mana perjalanan ini justru memperlebar tempuhan
Asing sekaligus begitu familiar
Aku memeluk diriku dalam bayangan nyatanya
Menemukan kembali diri yang hilang dan enggan kulepas lagi
tapi ini alam mimpi
di dunia nyata kita kembali tidak mengenal diri sendiri
aku enggan melepas diriku itu
tetapi waktu sudah lewat tengah malam dan lonceng sudah lama berhenti
mimpi indah dan keajaiban berhenti di sana
aku enggan melepas diri
tapi tangan itu terlanjur jatuh
ke bahu
ke lengan atas
ke telapak tangan
kunikmati saat terakhir jemari diriku lepas dari jemariku
karena kita tidak pernah mengenal diri kita di dunia nyata
Bagaimana cara menyalahkan orang lain di saat mereka tidak mengenal kita
bahkan aku dan diriku terpisah saat dialah yang paling mengerti
bagaimana seharusnya menggotong roh dan tubuh
Percayalah aku sedang berpesta
menari sambil mengundang semua yang bisa datang pada malam – malam yang ganjil
malam di mana mimpi indah kembali hadir
dan aku bisa bertemu dengan diriku
Mereka bilang mimpi yang sama tidak akan terulang dua kali
kamu tahu aku tidak pernah peduli
peduli mati
Aku ingin kamu diriku berisitirahat dan berhenti berpikir bekerja
sandarkan kepalamu yang selalu waspada sembari meraup ide
istirahatkan
Akan kuselimuti dan kupeluk hingga pagi
Hanya diri yang bisa menjaga diri
Belajar percaya adalah belajar menerima pahit
seperti jarum – jarum yang kembali menghujam
diri yang hanya bisa menjaga diri
Untuk diriku yang mengembara jauh hanya untuk bertemu denganku
kamu sadar betapa kita terlalu cocok hingga kita lupa untuk bertemu selama ini
Itulah kenyataan di dunia nyata pernyataan ini salah
Nilai ini tulisan siapa
karena aku mau menantangnya untuk adu benar
tapi diriku itu bukan yang aku mau
aku tahu bukan yang kamu mau
Aku amati cermin yang berbicara dan menanyakan kabarku
yang mencariku saat ku menghilang dari bingkai
Siapa yang memperhatikanku selain diriku itu
Aku tetap berharap segalanya berbeda
Aku tahu ini terdengar melankolis
dan kamu tahu kalau aku sangat realis
Betapa kita bahkan harus ikhlas untuk diri kita sendiri
Semoga kamu berbahagia diriku
Bandung, 23 Oktober 2008
Diarsipkan di bawah: Puisi
Kejar, hujam, tikam aku dalam tiap detik
Paksa aku menangis, menjerit, dan berteriak
Lantai ini mulai goyah dan penuh derak
Kepala, tangan, usus, dan segala yang tercabik
Aku membencinya, titik
Bandung, 11 Septemper 2008
Diarsipkan di bawah: Video
Dir en Grey adalah band Jepang yang cukup memberi influence musikal maupun visual pada saya. Walau agak bias untuk mendefinisikan apa genre mereka, tetapi umumnya mereka dikenal sebagai pengusung visual kei. Dua buah video klip ini adalah favorit saya sejauh ini. Mereka benar – benar tahu arti kata “macabre” rupanya. Enjoy the videos!
Obscure
Saku
Diarsipkan di bawah: Review

Decemberunderground is a time and a place. It is where the cold can huddle together in darkness and isolation -Davey Havoc
Album ketujuh dari band A Fire Inside (http://www.afireinside.net/). Jujur, pada saat pertamakali mendengarkan album ini saya sangat kecewa. Saya mengharapkan suguhan sebuah olahan musik goth-punk-rock-core ala AFI seperti di album Sing the Sorrow atau The Art of Drowning. Malah, saya sempat berprediksi mereka kembali ke akar hardcore Black Sails in the Sunset. Semua prediksi dan harapan pupus: mereka hadir dengan tempo menengah ke bawah, penuh loop dan sampling elektronik. Mungkin saya kecewa sebagai penikmat punk rock, tetapi kalau melihat AFI sebagai sebuah embrio baru post-punk ternyata album ini cukup catchy.
Untuk porsi “keras” Kill Caustic dan Miss Murder yang anthemic adalah pilihan yang tepat sebagai obat rindu. The Interview dan Love like Winter adalah sebuah evolusi new-wave menurut pemahaman Davey Havoc dan rekan – rekannya. Sementara lagu – lagu lainnya kira – kira jatuh di antara dua dipol – dipol musikal tersebut. Karakternya, walau demikian, tetap sangat AFI sekali. Gitar Jade Puget yang jatuh bergantian di sesi melodi maupun harmoni, rhythm Hunter-Adam, serta tarikan pita suara yang sangat ikonik milik Davey Havoc.
Decemberunderground adalah musim dingin di sudut kota sunyi. Dimana kenangan – kenangan menusuk bulu kuduk hingga sumsum, membuatmu menggigil sambil berpikir untuk berbaring menikmati hamparan putih tanpa ujung. Sebuah kemarahan yang terselip di sela – sela perenungan, usaha pemberontakan yang ternyata tidak pernah lepas dari belenggu. Siapkan pilihan lagu di album ini untuk perjalananmu ke Antartika atau Alaska. Hmm mungkin kamu bisa sambil masukan ke tas yang sama: Aiden dan My Chemical Romance generasi The Black Parade.
Diarsipkan di bawah: Review

Precambrian is that stretch of geological time from the formation of the Earth itself to the start of the Cambrian period. This immensely long stretch of time – some four billion years or more – saw the formation of the Earth as a planetary body, including geosphere, atmosphere, and hydrosphere, as well as the appearance of the biosphere and hence the transformation of the Earth from a dead planet to a living one.
(http://www.palaeos.com/Timescale/Precambrian.htm)
Pada awalnya, saya sama sekali tidak menyangka sebuah band bernama The Ocean (www.theoceancollective.com) akan menghasilkan deru musik semacam ini. Nama yang asing bagi saya, dengan imaji yang sangat melenceng dari kebenaran. Betapa judul album bernuansa geologi semakin membuat saya salah mengira tentang musik band ini. Dorongan keingintahuan berhasil mengeluarkan umpatan penuh takjub dari mulut saya. Ini adalah sebuah masterpiece, mencuat dari disiplin doom/sludge metal bertemu lirik cerdas dan teknik musik di atas rata – rata.
Selamat berkenalan dengan The Ocean, sebuah band dari German. genre-nya adalah persilangan dari doom, sludge, post-metal, atau apapun kamu mau menyebut sebuah musik metal dengan beat yang cenderung lambat, riff – riff panjang berulang, komposisi yang luar biasa matang: rapat dan penuh. Komposisi musik adalah poin utama dari album ini. Suguhan musiknya begitu bervariasi, membawa visualisasi masa – masa awal penciptaan bumi dengan kebrutalan serta keteraturan alamiahnya menjadi begitu nyata, senyata sebuah perjalanan dengan mesin waktu.
Deretan judul yang sekilas cukup aneh. Semua menggunakan istilah – istilah geologi yang saya sukar pahami tanpa literatur penunjang. Coba saja amati deret judul seperti Hadean, Eoarchaean, Mesoarchaean, atau Calymmian. Walau demikian, saya melihat lirik – lirik metafor antara masa chaos dalam awal mula bumi dengan sebuah peradaban manusia modern. Kritik universal tentang hidup yang semakin korup tetapi mendamba sebuah keteraturan. Nature will find it’s balance, eh?
Musiknya adalah sebuah eksplorasi kemungkinan. Gaya yang sangat luas, meraup rakus bahkan hingga ke tatar jazz dan instrumental bersama string. Sampling – sampling elektronik di beberapa bagian, juga permainan ketukan yang dapat membuatmu tersandung apabila mengikuti iramanya. Keras, lembut. Kaotik, teratur. Pilihan personal? Ada baiknya kamu coba dengarkan lagu Paleoarchaean: Man & the Sea , Orosirian: For the Great Blue Cold Now Reigns, dan Mesoarchaean: Legions of Winged Octopi.
Album ini pasti akan kamu nikmati layaknya kamu mendengarkan Isis, Neurosis, Tool, atau Cult of Luna. Dengarkan saat pikiranmu sedang jernih dan otakmu dalam mode idealis, jangan lupa tabahkan hati untuk melakukan apresiasi yang hakiki. Jangan gunakan musik semacam ini untuk menjual album rekaman atau mengincar ketenaran.
Diarsipkan di bawah: Video
Film pendek yang ternyata bercerita lebih banyak dari yang ditampilkan. Visualisasi kelam dari sebuah dunia dalam imaji sang sutradara, tentang bagaimana caranya melupakan kenangan buruk dalam hidup. Betapa kita selalu terjebak dalam berhenti mengingat rasa sakit hanya untuk merasakan rasa sakit yang lain.

Ada banyak macam film dengan banyak sensasi yang berbeda – beda. Sebagian film begitu membosankan dan terasa biasa saja. Tipikal pahlawan, tipikal antagonis, wuff semua berakhir dengan happy ending. Atau sebuah benang kusut yang membuat jidat berkerut, memaksa tinggal lebih lama saat benang terurai satu demi satu, dan voila sebuah akhir mengejutkan yang menantang cara pikir membuatmu bersyukur tidak melewatkan satu frame pun dari pikiran. Lalu yang satu lagi, adalah film yang dari awal membuatmu tertarik, semakin lama semakin membuatmu bergairah, lalu orgasme pada akhirnya tanpa harus berpikir panjang atau mengurai benang. Untuk saya, kategori terakhir mengandung Grindhouse di dalamnya.
Sebuah film double-feature karya dua sutradara favorit saya: Quentin Tarantino dan Robert Rodriguez. Merupakan tribute untuk film – film ‘grindhouse’, sebuah istilah yang mengacu kepada teater yang spesialisasinya memutar B-movies. Tema yang diusung tentu sangat B: eksploitasi, darah, kejijikan, monster, zombie, sex, dan kekerasan berlebih. Plot absurd adalah suatu kewajiban. Keabsurdan itu adalah sebuah kenikmatan dalam menikmati B-movies. Biasanya, sensasi yang dihasilkan bahkan tidak terduga. B-movies adalah sekumpulan film yang mampu membuat saya jiik, seram, tegang, dan geli dalam satu waktu yang bersamaan.
Film ini terbagi menjadi dua bagian: Planet Terror dan Death Proof. Masing – masing berdiri sendiri dan diarahkan oleh sutradara yang berbeda. Planet Terror adalah karya Rodriguez, sementara Death Proof adalah milik Tarantino. Setiap film disajikan seolah – olah tengah disaksikan di sebuah bioskop, lengkap dengan trailer film dan pesan – pesan dari teaternya.
Death Proof adalah cerita tentang seorang stuntman psikopat bernama Stuntman Mike (Kurt Russell). Dengan mengendarai sebuah mobil yang ia klaim ‘death proof’, ia membantai gadis – gadis yang ia jadikan target. Karena tidak ada bukti yang menunjukan bahwa ia adalah seorang pembunuh gila yang berkeliaran dengan mobil gila, maka niat buruknya dapat terulang lagi. Sampai pada suatu saat, sebuah pengendara yang sama gilanya, mengendarai mobil yang dipaksa ‘death proof’, bertemu dengan sang pembantai di jalan. Siapakah yang bertahan dalam balapan menantang ajal dengan mobil yang tahan ajal ini?
Planet Terror membawa kita ke sebuah pertempuran untuk survival. Sebuah virus menyerang warga dan mengubah mereka menjadi zombie. Mereka yang belum terinfeksi berkumpul dan berusaha untuk bertahan hidup, dipimpin oleh seorang maestro senjata El Wray (Freddy Rodriguez) dan stripper berkaki senjata M4, Cherry Darling (Rose McGowan). Ternyata virus tersebut merupakan senjata biologis yang dikuasai oleh sekelompok tentara pembelot pimpinan Lt. Muldon (Bruce Willis). Fim zombie selalu menyiapkan akhir yang mengejutkan, tidak terkecuali Planet Terror.
Grindhouse, segera menjadi favorit saya diantara film – film Tarantino dan Rodriguez lainnya. Sebelumnya saya menjagokan Kill Bill dan El Mariachi, tetapi ada sejenis kegilaan tersendiri saat menyaksikan Grindhouse. Cukup banyak special effect yang digunakan untuk film ini. Selain untuk membuat adegan – adegan absurd (kekerasan dan kegilaan), efek yang cukup menarik adalah untuk membuat kesan ‘kuno’ pada film ini. Gambar buram, layar bergoyang, bahkan pita yang terbakar. Gabungan efek yang tepat, fantasi yangliar, serta shoot angle khas yang diberikan masing – masing sutradara menjadikan film ini meninggalkan kesan tersendiri. Kalau kamu menikmati film – film zombie, violence pack action, serta sedikit softcore teaser, maka film ini tentu akan membekas cukup lama juga untukmu.
Diarsipkan di bawah: Video
Kalau ada yang membuat saya begitu menikmati mendengarkan Modern Life is War, maka itu adalah kebrutalan yang mereka ciptakan. Kemarahan bercampur sebuah kontemplasi akan sebuah jalan hidup. Live mereka di CBGB yang legendaris cukup membuat saya terpana akan energi yang mereka hidangkan. Silahkan nikmati kebrutalan kontemplatif ini dengan sepenuh hati. The world isn’t against you, my dear. It just doesn’t care.











