aku mau tersenyum
biar duri mengais merajam
kuku cabut hancur lebam
jatuh sakit hina buram
martabat runtuh langit hujam
kepercayaan hilang sunyi redam
ketakutan turun dingin cekam
penyakit pasang jasad muram
waktu desak padat kejam
harta lenyap hilang suram
aku mau tersenyum
karena derita mulai lembam
bisa karena biasa tajam
bertahan dalam tanah curam
(bandung, 12 September 2007)
Cahaya,cahaya,cahaya
Aku mau terangnya
Kemilaunya
Panasnya
Membakar semua guratan nista
Kehampaan asa
Cahaya, cahaya, cahaya
Angkat aku ke jalaran angkasa
Lepas rantai – rantai karatan memaksa
Lupa aku semua tentang bahaya
Tertawa aku walau membesut luka
(Bandung, 12 September 2007)
aku ditinggal tidur nikmat tidur
badanku terlanjur hancur juga lebur
kepala pusing pandangan kabur
batin tawur tak terhibur
sepanjang malam ku melacur
mencari nikmat tidur yang pergi tidur
dur, bangun, dur…
(Bandung 10 September 2007)
Di puncak gunung yang tinggi, lebih tinggi dari gunung manapun di dunia, hiduplah seorang laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia. Ia tinggal di sebuah kastil gelap yang dijauhi cahaya dan kehangatan. Kamarnya berpendar kemerahan, dingin, juga beraroma debu. Di depan jendela besarnya laki – laki itu selalu memandang ke bawah, menyaksikan kehidupan manusia.
Laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia tidak pernah bisa berhenti bekerja. Ia selalu diburu oleh detak jarum detik. Ya, setiap hari ia bergumul dengan angka – angka perhitungan detik, menit, dan jam. Ia tidak punya waktu bahkan untuk bernafas. Ia sadar waktu begitu cepat habis dari dirinya, tidak menyisakan sedikitpun kesempatan untuk hidupnya. Semuanya mengalir tumpah seperti tangki yang bocor. Laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia sadar bahwa waktu telah merenggut hidupnya.
Laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia sangat gelisah. Menurut perhitungannya, di saat ia berpikir pun sang waktu terus mengambil jatah kehidupannya. Ia tidak punya banyak waktu untuk dihambur – hamburkan atau semuanya akan terlanjur habis. Ia bahkan belum merasakan hidup yang sebenarnya, seperti manusia – manusia yang ada di kaki gunung. Ia tidak merasakan kegembiraan hidup. Hanya kegelisahan akan buruan sang waktu . Ia sadar ia harus melakukan sesuatu dengan cepat sebelum hidupnya berakhir.
Logika berpikirnya menghasilkan dua pilihan. Dengan analogi sebuah tabung air yang bocor ia hanya dua buah solusi: menambal tangki sehingga aliran air berhenti atau menambah tangki terus menerus agar tidak kehabisan air. Baiklah, pikirnya, bagaimana dengan solusi pertama? Bagaimana caranya membendung aliran sang waktu? Yang ia butuhkan adalah suatu bahan penambal kedap waktu. Sesuatu yang kuat, awet, dan tahan waktu. Ia tahu, bahan untuk menambal aliran waktu yang sesuai dengan deskripsi kilatnya: memori.
Laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia tidak ingin terburu – buru. Semakin terburu – buru, maka akan semakin kehilangan waktu, pikirnya. Bagaimana dengan solusi kedua? Bagaimana caranya agar ia bisa terus menambah waktu miliknya? Ia harus mencari sumber waktu. Di mana lagi ia bisa menemukan waktu untuknya? Laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia berpikir agak lama. Kegelisahan semakin menancap di perasaannya. Ia tidak tahu kemana harus mencari. Kalau sudah begini, tidak ada jalan lain selain: mencuri.
Sempurna! Kini di kepalanya tertanam dua hal yang menurutnya harus dilakukan sekarang juga: mengumpulkan memori dan mencuri waktu. Laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia semakin kagum akan karya pemikirannya. Dua rencana besarnya bisa dilakukan dalam satu waktu! Sebuah upaya penghematan luar biasa untuk menyelamatkan sumber daya yang sangat ia butuhkan. Tidak perlu berpikir lebih lama, saatnya ia menjalankan rencananya.
Mulailah laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia mencuri waktu sambil mengumpulkan memori. Ia benar – benar hemat menggunakan waktunya. Sambil menunggu proses pekerjaannya berlangsung, ia sibuk mengumpulkan memori. Perlahan – lahan, memori miliknya terkumpul dan semakin banyak. Kegelisahan dan rasa takut mulai menipis, didera oleh rasa aman dan nyaman. Ia memiliki memori yang mampu menambal aliran waktu. Ia kini mendapatkan kembali hidupnya yang hilang, sambil terus menambal . Ia merasa dengan tambalan memori ini aliran waktu akan teredam – walau tidak sampai berhenti – sehingga ia merasa hidupnya akan lama sekali karena persediaan waktunya banyak sekali.
Tentu saja, waktu yang digunakan untuk mengumpulkan memori adalah waktu yang ia curi. Laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia tidak pernah lalai sedikitpun terhadap dua hal: pekerjaannya dan waktu. Sedikit saja ada kesempatan untuk mencuri waktu, ia langsung mengambilnya secepat mungkin dan menyimpannya untuk dirinya sendiri.
Waktu milik laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia mulai terkumpul. Ia merasakan bahwa ia kini sangat berlimpah waktu. Ia bisa melakukan banyak hal sekarang, tanpa takut akan kekurangan waktu. Memorinya pun menggunung. Ia telah memiliki tumpukan memori yang dapat menambal waktu mendekati tak hingga. Dengan memori dan waktu yang begitu banyak, kini keberadaannya hampir abadi.
Namun, laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia belum puas. Kini ia benar – benar menginginkan seluruh waktu di dunia. Ia menginginkan pagi, siang, sore, dan malam. Ia menginginkan keempat musim yang ada. Ia menginginkan keduabelas bulan. Ia menginginkan sepanjang tahun. Ia menginginkan keabadian!
Tidak ada perubahan rencana. Tetapi memori dan waktu yang ia curi, ia kumpulkan, kini adalah milik alam semesta: manusia, tumbuhan, hewan, bumi, langit, udara,dan elemen alam semesta lainnya. Tentu saja, laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia memiliki dua senjata ampuh yang membuat rencana besarnya ini terlaksana : kegemilangan otaknya dan penguasaannya akan proses. Ya, proses! Laki – laki ini memiliki pekerjaan jutaan detik mengenai proses, ia seorang virtuoso di bidangnya ini.
Laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia mencuri waktu alam semesta dengan mempersingkat prosesnya. Waktu yang dibutuhkan menjadi lebih singkat dari sebelumnya, sehingga kelebihan sisanya masuk ke dalam tabung laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia. Ia menghapus jarak untuk mempersingkat waktu tempuh. Ia menghapus perbincangan dan tatap muka agar waktu bicara menjadi singkat. Segala sesuatunya kini menjadi singkat.
Memori alam semesta ia kumpulkan dengan serakah. Bahkan, kini ia tidak lagi sekedar mengumpulkan memori saja, tetapi juga mengabadikan keberadaan itu sendiri. Laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia berpikir bahwa momen akan sangat murni apabila melekat di dalam keberadaan aslinya. Ia melakukan suatu perlawanan terhadap kodrat alam semesta dengan berusaha mengabadikan keberadaan. Ia menciptakan eliksir – eliksir keabadian dan mengawetkan kehidupan.
Sayangnya, disinilah letak kesalahan laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia. Keserakahan akhirnya mulai menunjukan arit raksasanya. Laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia melakukan kesalahan terbesarnya. Walau ia mencuri waktu dari alam semesta dan mengumpulkannya di tabungnya, waktu miliknya tidak pernah bertambah. Waktu alam semesta memang semakin pendek, namun waktu miliknya tidak pernah bertambah, bahkan tetap berkurang.
Demikian juga dengan memori yang ia kumpulkan. Yang ini lebih baik setidaknya. Memori tersebut membantu meredam aliran waktu milik alam semesta, tetapi tidak aliran waktu miliknya. Laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia terlalu sibuk mengumpulkan memori alam semesta sehingga melupakan memori miliknya sendiri. Ia melupakannya! Kini tabung waktu yang bocor kembali mengalirkan waktu keluar tabung.
Kali ini laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia sudah tidak punya waktu untuk berpikir. Tidak punya waktu untuk mengumpulkan memori. Tidak punya waktu lagi untuk kehidupan. Keserakahan sudah menariknya terlalu jauh ke dalam ketiadaan. Tabung waktu miliknya kini kosong. Waktu miliknya mengalir ke dalam vortex waktu, bersama dengan keberadaan laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia. Kini, tidak ada lagi satupun memori maupun waktu milik laki – laki yang menginginkan seluruh waktu di dunia.
(Bandung, 9 September 2007)

Ada gitar yang berbunyi sendiri
Gitarku
Di kamarku
Di malam buta
Memainkan lagu yang akan aku mainkan
Di resital sunyiku
Dingin dan kaku
Malu dan terhina
Saat jari – jariku
Tak seperti sang maestro
Sang pemain misterius yang bermain
Menuruni tangga
Maestro tolong ajari aku
Jangan kau ganggu ibuku di bawah sana
selamat pagi matahari
selamat pagi negeri
selamat pagi awan – awan
selamat pagi kawan dan lawan
selamat pagi tanaman
selamat pagi kelelahan
selamat pagi udara
selamat pagi dunia
selamat pagi kehancuran
selamat pagi harapan

Bapak musik bergemuruh
Simfoni yang membakar tanah dan mengundang badai
Manifestasi kekayaan auralnya
Pertama unison, lalu kontrapung
Empat lapis suara lalu masuk ke final yang mengiris
Bapak music tidak pernah cukup
Terlalu banyak bahkan untuk dirinya sendiri
Coba dengar bapak music
lihat musiknya dengan terbalik
bapak music seperti ketam
tegas dengan capitnya
berjalan menyamping susuri pantai
memandang laut
simfoni siklis

Di garis depan
Sendiri
Dengan pedang yang ditempa
Sendiri
Menang semua senang
Sendiri
Jika kalah maka kalah
sendiri



















