
Album ini bertahan cukup lama di tape mobil saya. Menemani perjalanan malam menyusuri jalan – jalan hingga sunyi dan mati sama sekali di dini hari. Begitulah, saya lebih sering berkelana di malam hari, demikian halnya para tokoh di album ini.
The curse adalah sebuah obsesi vampirik dari sang vokalis Alex Varkatzas. Varkatzas mengakui dirinya adalah penggemar novel – novel Anne Rice, sehingga dampaknya cukup terlihat di tema utama lirik – lirik tulisannya. Ini juga penyebab utama mengapa musik Atreyu cocok di telinga saya, karena saya pun pembaca Anne Rice hahah.
Musik dibuka oleh Blood Children, opening yang akan membuat mood kita siap masuk menulusuri gelapnya malam bersama kaum abadi lainnya. Saat teriakan panjang itu menghentikan sejenak nafasmu, Bleeding Mascara menghajar dengan intro lead gitar yang menyayat. Tragedi lagi dan lagi, Rightside of the Bed mencegahmu untuk kabur. Membawamu terus melaju dalam pusaran, hingga sang immortal menyambutmu sendiri dalam glamornya darah dan kematian pada The Crimson. Cinta memang selalu membunuh bukan? Carilah hubungannya di Demonology and Heartache, karena ia begitu terlarang untuk diucap. Pada akhirnya semua berakhir di My Sanity on the Funeral Pyre, dan kamu bisa merelakan ragamu diseret ke ujung lagu.
Kekuatan Atreyu terletak di duet vokal Varkatzas dan Brandon yang sebenarnya adalah penggebuk drum di band ini. Paduan harsh scream dan suara tenor melodius: saya sebut kombinasi yang vampirik. Jangan lupa lick – lick metal-ish dari dua gitaris Dan dan Travis yang semakin membuat sayatan – sayatan itu nyata. Dorongan untuk menjebol batas post-hardcore dan ada di ujung metalcore, eh? Pada akhirnya, keseimbangan dijalin oleh permainan bass oleh Marc.
Kalau kamu menyukai novel – novel Anne Rice, Vampire, hal – hal yang goth-ish, dan kata – kata puitis, Atreyu album yang cocok untuk menemani perjalananmu. Apalagi kalau kamu mendengarkan I Am Ghost, Vanna, dan Underoath atau suka menonton Taste of Chaos DVD.

Lagi – lagi sebuah album yang langsung menjadi sebuah personal soundtrack. Modern Life is War bukan tipikal tough-guy-hardcore yang mati – matian membuktikan diri sebagai si macho man. Lupakan breakdown dan semua struktur lagu yang mapan. Karena Modern Life is War mencoba melawan, tetapi tetap berusaha untuk tidak menjadi apa yang mereka lawan.
Semua kisah tentang sudut lain kehidupan di pojok kota. Tentang teman, persaudaraan, lingkungan, dan apa yang terjadi di saat setiap elemen bertemu dan tercampur dalam larutan hidup. Bagi sebagian orang, hidup seperti sebuah cetakan dengan pakem – pakem yang begitu mengikat. Apa yang terjadi saat kamu berusaha untuk keluar dari cetakan itu adalah sebuah petualangan tersendiri, cenderung tragis dan romantik. Witness adalah saksi mata sebuah perjalanan hidup, saat sebuah kedewasaan dicari.
Witness merupakan album kedua band hardcore asal Marshaltown, Iowa. Dirilis tahun 2005 di bawah label Deathwish Inc. Paduan chord dan melodi yang apik, juga hardcore shout yang sangat cocok untuk sing along membuat band ini begitu mudah diingat. Berusaha melepas dari ikatan stereotip bagaimana-hardcore-seharusnya, musik Modern Life is War tidak memiliki breakdown serta struktur intro-verse-chorus. Sepanjang apa liriknya, nah, sepanjang itu juga lagunya.
Sangat cocok didengarkan saat kamu merasa marah terhadap hidupmu sambil berusaha untuk tidak menyerah. Tanpa solusi, tetapi yang terpenting kamu tetap bertahan di atas kedua kakimu. Kalau kamu juga mendengarkan band – band semacam Comeback Kid, Ignite, atau Bane maka Modern Life Is War sangat cocok untukmu!
Baiklah, track – track favorit saya di album ini Marshaltown, D.E.A.D.R.A.M.O.N.E.S., dan I’m Not Ready. Sebuah pesan filosofis tanpa bermaksud untuk sok bermoral, hingga menjadi quotes yang berkesan bagi saya:
“The world isn’t against you, my dear, it just doesn’t care”

Kapan kamu terakhir kali mendengar sebuah band punk rock? Bukan, sama sekali bukan yang itu!Saya tidak mencoba mengingatkamnu dengan band chord tiga atau empat pasang, nyanyi dengan sing along yang unison, lalu penuh dengan improvisasi kemabukan di sana – sini. Lupakan, teman, bukan stereotip itu yang saya maksud. Saya bicara tentang band punk dengan melodi shred super cepat dan rapat, sing along berinterval, riff – riff catchy nan gagah, dan lagu bertempo di atas 150bpm untuk not seperempatnya.
Apa, kamu belum pernah dengar yang seperti itu? Kalau begitu kamu harus dengar quintet dari New Bedford, Massachusetts, ini. Ayo moshing di tengah deru melodi gitar bersama A Wilhelm Scream. Muncul di tengah – tengah genre berlabel the-so-called-melodic-hardcore.
Baiklah, terus terang, saya tidak sanggup lagi mendeskripsikan bentuk musik mereka, karena secara umum aturan ini berlaku untuk semua lagu di album ini. Entah ini suatu kekuatan atau kelemahan. Vokal Nuno Pereira adalah semi-shout-semi-scream-singing, disambut dengan backing-an dari kawan – kawannya. Bass Brian adalah campuran root chord dan walking bass line. Drum Nicholas adalah punk beat duk-stak-duk-duk-stak yang rapat menderu sampai akhir. Lalu, bagian tergila dari keseluruhan komposisi, shreding gitar dari duet maniak Trevor dan Mike. Saya sebut maniak, karena ego-nya mengingatkan saya pada gitaris Dragon Force.
Album direkam di studio Blasting Room, yang konon legendaris menjadi pilihan band – band legend. Tidak kalah legendaris dengan sang produser sendiri, Bill Stevenson, yang merupakan drummer Black Flag dan Descendent.
Trevor, penulis lirik di band ini, banyak mengangkat kisah pengalaman personalnya untuk lagu – lagu di Career Suicide. Kadang nostalgik, sampah, atau sangat punk rock sekali (hahah). Humor sarkastik dicampur dengan diksi yang tepat, voila!
Album gagah layak dengar di tahun 2007. Favorit no.2 di tahun itu setelah Bad Religion. Kalau iseng, coba dengarkan bersama metronome.

Larung Lanang. Laki – laki pintar tetapi jalan pikirannya susah untuk ditebak. Larung berjalan – jalan di dunia dongeng dan lansekap surealis. Tugas terbesarnya adalah mencari jalan untuk menghabisi umur neneknya. Menurut Larung, nenek sudah hidup terlalu lama. Saatnya mengakhiri derita jasad yang malang itu.
Lanjutan dari Saman, pelengkap dwilogi luar biasa milik Ayu Utami. Kini semua pemain lengkap, masing – masing bertutur dalam busurnya untuk membentuk sebuah busur raksasa yang tidak terduga. Sebuah pengelanaan menarik dalam membacanya, sembari menebak hubungan antara Saman, Larung, dan empat sekawan Shakuntala, Cok, Jasmin, dan Laila.
Ayu Utami membawa kita kepada sebuah petualangan ke hutan – hutan dan perkampungan klenik, perjuangan para aktivis dan jejaring kultur bawahtanah, hingga kerumitan psikologis dan seksualitas tokoh – tokohnya. Isu – isu feminis post-modernitas serta pencarian makna filosofis di tengah kebauran sakral profan diketengahkan. Permasalahan gender, hak asasi, dan juga sengketa anta kelas, tidak lupa peraduan kultur tradisi dan modern.
Lengkap dan terasa penuh sekali. Terkadang sampai terasa lelah untuk membacanya. Tetapi, percayalah, Ayu Utami adalah seorang penyihir. Ia mampu membuat saya tetap memegang novel ini hingga habis dalam waktu dua hari saja. Sebuah akhir yang tidak terduga, sekaligus sebuah momen puncak kemenangan yang seolah ingin terus diabadikan sehingga harus berakhir demikian.
Ayu Utami memang bukan penulis biasa menurut saya. Pendekatan penulisannya sangat cutting-edge. Cerita disampaikan dengan gaya yang bermacam – macam. Dari penuturan tokoh, catatan harian, hingga balasan – balasan e-mail. Fakta – fakta yang berserakan pada akhirnya dirangkai menuju sebuah kesimpulan.
Kalau kamu suka dengan sastra – sastra kontemporer Indonesia, lalu membaca Saman juga, saya akan sangat bingung kalau kamu masih belum membaca buku ini. Sangat layak dikoleksi. Membaca Larung, terasa seperti membaca sebuah essay!
Diarsipkan di bawah: Uncategorized

Sebuah film adaptasi novela Stephen King yang berjudul Secret Window, Secret Garden. Sebuah psychological thriller yang menarik, penuh alur lambat, dan kebenaran yang disembunyikan di alam bawah sadar.
Menceritakan tentang Mort Rainey (Johny Depp), seorang penulis yang tengah mengalami writer’s block. Ia baru bercerai dengan istrinya yang selingkuh dan memutuskan untuk menyepi sendiri. Kemudian ia didatangi oleh John Shooter (John Turturro) yang mengklaim bahwa cerita yang ditulis oleh Mort adalah bentuk plagiarisme terhadap karyanya. Mort berusaha menyangkal, sementara Shooter mulai melakukan serangkaian ancaman dan pembunuhan.
Johny Depp memang seorang aktor ulung. Mort yang nyentrik diperankan apa adanya tanpa dibuat – buat (kecuali berakting tentu saja). Film ini penuh dengan taburan dialog, bahkan monolog Mort yang satir dan agak paranoid, namun cerdas. Selama menonton kita diajak berlomba – lomba untuk mengetahui siapa Shooter sebenarnya dan apa hubungan yang disembunyikan oleh Mort.
Film ini awalnya agak membosankan menurut saya. Alurnya lambat. Premis yang pada awalnya saya pikir sangat acak dan lemah, berbalik menjadi momen kemenangan film ini. Saya tidak mampu untuk mengungkapkannya, kamu sebaiknya menonton sendiri.
Tentu saja, terdapat beberapa perbedaan dengan novelanya. Beberapa hal terkait dengan produk perusahaan yang disinggung dalam cerita (Coke, Jack Daniels, UPS), beberapa setting cerita, dan – sayangnya – beberapa cerita sebenarnya. Kalau sudah membaca novelanya tentu agak ‘gatal’ jika menonton film adaptasi yang demikian. Film ini, bagaimanapun juga, memiliki kekuatannya sendiri.
Sangat cocok untuk penggemar cerita thriller yang tidak straight, psychological, mikir, dan -terutama- untuk yang menggemari film – film Johny Depp (bahkan Mort sepintas sangat mirip dengan Jack Sparrow). Akhirnya, sangat tak terduga. Seperti quote favorit saya dari film ini:
“Ending is the most important part of the story. This one is perfect”

Baiklah, album ini soundtrack galau saya untuk minggu ini. Sebenarnya saya agak rancu dalam menggunakan kata emo sebagai genre, tetapi saya tidak punya deskripsi lain untuk album ini selain emo.
Merupakan album ketiga dari Taking Back Sunday sekaligus album pertama di major label Warner Bros. Sayangnya, sebagian besar track lagunya menurut saya sangat datar dan menurun dibandingkan lagu – lagu di album Where You Want to Be.
Hanya beberapa lagu yang berhasil membekas di telinga saya. What’s It Feel Like to be a Ghost (yang ikut serta di album soundtrack Transformers), Liar, Make Damn Sure, dan Error Operator. Komposisi lagu – lagu tadi lebih berciri dibanding lagu lainnya yang sepintas mirip – mirip saja. Walau demikian, belum bisa menandingi lagu – lagu lama dari album sebelumnya.
Musik di Louder Now memang lebih ’stabil’ dibanding album sebelumnya. Yeah, kamu tidak seputus asa itu sampai berteriak pedih sambil menangis. Louder Now terdengar seperti seseorang yang menyadari bahwa rasa sakit adalah sesuatu yang harus diterima, dalam diam, dan perenungan. Menurut saya disitulah kekuatan utama album ini, pergeseran paradigma dalam menyikapi perasaan, sebuah kedewasaan.
Ditambah lagi, menurut saya, kepergian gitaris-vokalis Fred Mascherino membawa dampak tersendiri pada hasil karya. Membaca lirik – lirik Louder Now sebagian memang kadang menunjukan sebuah konflik hubungan antara teman dibandingkan kekasih. Sayang sekali, karena, ciri Taking Back Sunday adalah sahut – sahutan vokal antara Fred dan Adam Lazarra.
Bukan album yang jelek menurut saya, toh album ini sempat bertengger lama di playlist saya menemani kegalauan hati hahah. Tetapi belum bisa menandingi Where You Want to Be (ingat single betapa emo-sional This Photograph is Proof dari soundtrack Spiderman?). Cocok untuk didengarkan sambil lalu, di dalam mobil, sendirian, di malam hari. Lalu kamu ditemani kopi kalengan dan roti coklat murahan, di pinggir jalan. Emo sekali bukan?

Saman berkelana lewat ruang dan waktu. Keduanya adalah relatif dan konsisten dalam ketidakpastian. Saman menggempur hidupnya, bertahan di atas dua kakinya, berusaha untuk mengais makna. Saman, saat bercermin, melihat saya.
Saman karya Ayu Utami memenangkan Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1998. Menurut saya, novel ini memang pantas mendapatkannya. Menerobos tema religi, sosial, budaya, seks, dan mistis; membuat kita terhanyut dalam perjalanan panjang Wisanggeni: pastor, pejuang, pengelana, yang akhirnya tersesat murtad berdosa, jatuh dalam kegagalan dan bangkit kembali dalam sosok Saman.
Tersirat banyak sekali renungan di sela – sela untaian kata yang terpadu dengan indah. Kadang puitis bermartabat, sebelum kemudian nakal dan cabul. Tidak ada artinya memperdebatkan oposisi biner dalam kehidupan; karena pergulatan itu adalah hidup sendiri.
Perjalanan sang tokoh dikisahkan dari banyak sekali sudut pandang, narasi, dan kumpulan surat.
Dimulai dari masa kecil Wisanggeni di Perabumulih, beserta tragedi traumatisnya dengan sang Ibu, yang membuatnya terpanggil menjadi seorang pastor dan kembali ke kota kelahirannya. Ketidakadilan serta rasa cintanya terhadap kaum buruh tani dan seorang gadis gila, Upi, membuatnya berjuang memperjuangkan hak – hak kemanusiaan. Sesuatu yang lebih nyata daripada sekumpulan prosesi dan doa.
Kegagalan, kematian, dan penyiksaan menjadi hadiah yang ia terima. Menjadi buron sambil terus memperjuangkan keadilan tidak akan mudah. Wisanggeni tidak akan mampu, tetapi Saman mampu. Saman bangkit dalam pengembaraan, membawanya ke New York, dalam ironi pertempuran dengan medan fisik sejauh ribuan kilometer.
Cinta dan seks, iman dan dosa. Saman hanya manusia, sebagaimana Adam, yang akhirnya mamakan buah terlarang dan larut dalam birahi. Tetapi ini semua terlalu manusiawi, sedangkan ide akan dosa adalah hak Yang Maha Kuasa, begitu jauh. Inilah bayangan Saman, sama hitamnya dengan bayangan kita masing – masing.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized

Hampir 30 tahun bermusik dengan 15 album dan puluhan dokumentasi rekaman lainnya, Bad Religion tetap layak menjadi sebuah anthem tersendiri dari generasi manapun. New Maps of Hell adalah puncak karya mereka sampai sejauh ini.
Pasangan legendaris Greg Graffin dan Bret Gurewitz semakin menggila setelah reuni mereka di album The Process of Belief. Lirik – lirik yang semakin cerdas dengan kosakata yang memaksa saya untuk membuka kamus (karena Greg adalah seorang profesor biologi sekarang) dan balutan musik punk rock klasik dengan komposisi yang sangat matang (hey, tuan Bret adalah pemilik dan produser label Epitaph!).
Mendengarkan New Maps of Hell mengingatkan saya pada album Suffer yang legendaris. Drum yang cepat, distorsi gitar dan melodinya, serta – favorit saya – koor ala Bad Religion yang membahana dengan gagah. Musik yang ditawarkan sangat segar sekaligus klasik. Beat monoton? Hey, justru itu yang saya maksud dengan klasik! Cukup lelah menghitung beat dari band baru akhir – akhir ini. Harmonisasi gitarnya, walaupun terdengar sederhana, sebenarnya sangat rapih dan kompleks. Satu chord sekalipun sebenarnya adalah harmonisasi tiga gitar yang dipadukan (yup, Bad Religion punya 3 gitaris sekarang, ingat?).
Dibuka dengan 52 seconds, sebuah intro anthemic yang langsung membawa kita ke sebuah GOR panas sesak untuk moshing, lalu menyambung kepada Heroes and Martyr yang sing-along-able. Track – track gagah berikutnya yaitu New Dark Ages, sebuah kritik terhadap keadaan sosial sekarang. Nomor pelan dilantunkan dengan emosional tanpa harus menjadi mellow, Think Before You Die dan – favorit saya – Honest Goodbye. Kembali menghentak dengan Scrutiny sampai akhirnya ditutup dengan entah bayangan akan masa depan atau sebuah metafor terhadap peperangan, Field of Mars, dengan intro piano yang sangat Beatles-ish. Puas dihajar! Luar biasa mengingat usia om – om ini sekitar 40 tahun-an. Album ini layak dikoleksi!









