
Larung Lanang. Laki – laki pintar tetapi jalan pikirannya susah untuk ditebak. Larung berjalan – jalan di dunia dongeng dan lansekap surealis. Tugas terbesarnya adalah mencari jalan untuk menghabisi umur neneknya. Menurut Larung, nenek sudah hidup terlalu lama. Saatnya mengakhiri derita jasad yang malang itu.
Lanjutan dari Saman, pelengkap dwilogi luar biasa milik Ayu Utami. Kini semua pemain lengkap, masing – masing bertutur dalam busurnya untuk membentuk sebuah busur raksasa yang tidak terduga. Sebuah pengelanaan menarik dalam membacanya, sembari menebak hubungan antara Saman, Larung, dan empat sekawan Shakuntala, Cok, Jasmin, dan Laila.
Ayu Utami membawa kita kepada sebuah petualangan ke hutan – hutan dan perkampungan klenik, perjuangan para aktivis dan jejaring kultur bawahtanah, hingga kerumitan psikologis dan seksualitas tokoh – tokohnya. Isu – isu feminis post-modernitas serta pencarian makna filosofis di tengah kebauran sakral profan diketengahkan. Permasalahan gender, hak asasi, dan juga sengketa anta kelas, tidak lupa peraduan kultur tradisi dan modern.
Lengkap dan terasa penuh sekali. Terkadang sampai terasa lelah untuk membacanya. Tetapi, percayalah, Ayu Utami adalah seorang penyihir. Ia mampu membuat saya tetap memegang novel ini hingga habis dalam waktu dua hari saja. Sebuah akhir yang tidak terduga, sekaligus sebuah momen puncak kemenangan yang seolah ingin terus diabadikan sehingga harus berakhir demikian.
Ayu Utami memang bukan penulis biasa menurut saya. Pendekatan penulisannya sangat cutting-edge. Cerita disampaikan dengan gaya yang bermacam – macam. Dari penuturan tokoh, catatan harian, hingga balasan – balasan e-mail. Fakta – fakta yang berserakan pada akhirnya dirangkai menuju sebuah kesimpulan.
Kalau kamu suka dengan sastra – sastra kontemporer Indonesia, lalu membaca Saman juga, saya akan sangat bingung kalau kamu masih belum membaca buku ini. Sangat layak dikoleksi. Membaca Larung, terasa seperti membaca sebuah essay!
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>










Menurutku, nih novel lumayan sulit dipahami,coz banyak kata2 or kalimat2 yang ‘tingkat tinggi’. so, kadang2 aku musti buka kamus bhs.Indonesia lagi. tapi bagusnya…… nih novel bikin wawasan kita soal negeri Indonesia yang paling unik ini. Oiya… juga banyak pengenalan2 lain tentang kisah pada zaman kerajaan ato dewa-dewi gitcu.. rada ruwet dikit seh…..tapi nikmati az dech….asik koq.. seru pula soal kehidupan nyelenehnya 4 wonder woman, si Shakuntala,Yasmin,Laila, en Cok Gita yang hobinya bener-bener gila n edun bangets euy.. Lu penasaran? y baca aje ndiri….he….he….he….1000x
Komentar oleh eza Desember 14, 2008 @ 2:41 pmWah gw lagi baca nih buku. Keren banget penggunaan kata-katanya. Rasanya pengen banget gw bisa nulis buku macam gini. Apalagi cara dia menampilkan tentang kematian melalui lubang telinga yang tidak pernah tua. Seperti burung bence yang berputar-putar di udara.
Komentar oleh Depe Januari 26, 2009 @ 4:00 amTop Abiez nih buku.
bagus novel penuh kritik zaman 1998
ditambah bumbu2 mistis yang ada dalam masyarakat
kalo bisa baca karya ayu yang baru bilangan fu
lebih seru lagee
ayu utami bener2 gila
Komentar oleh syamsul April 14, 2009 @ 9:07 amayu memang pengarang yang langka, bahkan dibanding penulis yang lebih senior. dia punya kedalaman dan pemahaman yang tak hanya bermain di permukaan, di fakta yang terlihat. saman, larung, bilangan fu, (plus essay2 parasit lajang) sangat bernas dan cerdas.
Komentar oleh YAHYA Juli 4, 2009 @ 10:12 am