sisa.ruang.diri


Membangun Istana di Atas Puing
Januari 28, 2008, 12:56 pm
Diarsipkan di bawah: Jurnal Racauan

Utopia adalah kebohongan. Dia berdiri anggun di horizon sana, namun tiap kali didekati ia dengan anggun dan sombong menjauh. Empat langkah kujalani, ia berlari sejauh empat langkah. Selalu demikian. Itulah utopia, baik untuk dijalani. Seperti mengejar kesempurnaan, yang kita ketahui tidak akan pernah tercapai, tetapi tidak bisa dijadikan alasan untuk berhenti berusaha memeluknya.Di mana aku berdiri tidak seperti di masa ketika segala sesuatunya baru dimulai. Euforia itu tidak ada di jasadku. Tidak juga di hatiku. Mau bagaimanapun kamu jejalkan semua itu, yang aku bisa lakukan hanya meniru saja. Aku tidak akan pernah merasakan apa yang kamu rasakan, memikirkan apa yang kamu pikirkan, atau memperjuangkan yang kamu perjuangkan dengan keadaan seratus persen sama. Aku yakin banyak pembohong besar di luar sana yang mengatakan bahwa mereka mengerti, yang ironisnya sesungguhnya mereka hanya berusaha untuk terlihat demikian.

Aku berada di masa di mana alienasi adalah penguasanya. Kita terasing satu sama lain. Ketidakpedulian luar biasa yang sudah menjadi kelaziman, sehingga bila aku melakukan hal sebaliknya aku akan dicap aneh atau mungkin gila. Ini masa dimana alasan dan logika selalu dikedepankan. Butuh seratus ‘karena’ untuk tiap sepuluh ‘mengapa’.

Hubungan antara kita, aku dan kamu, tidak pernah seperti yang terjadi puluhan, ratusan tahun lalu. Apa yang mereka katakan adalah benar: kamu hanya bisa mendapat apa yang sudah kamu berikan. Manusia sudah belajar untuk membunuh hati nurani mereka dan berhenti untuk mendengarkannya. Keikhlasan hanya ada di dalam teks buku agama atau pelajaran moral, yang keduanya adalah formalitas memuakan di negeri ini. Semuanya harus didasarkan pada perhitungan untung – rugi dan sebab- akibat. Tidak ada lagi tempat untuk ketulusan, kepolosan, kejujuran, dan keikhlasan.

Injak saja norma – norma tua karena toh mereka sudah tidak dipedulikan lagi. Tidak perlu malu, akui saja. Kamu bicara tentang keadilan tetapi mencontek saat ujian. Sholat lebih dari lima waktu namun kamu masih menikmati senggama pasangan – pasangan yang tidak kamu kenal. Tidak ada yang tabu. Ini era dimana informasi mengalir deras dan ilmu pengetahuan menjadi akar segalanya disamping laba – rugi.

Lupakan saja romantisme perjuangan masa lalumu. Tidak ada lagi yang mendengarkannya, kawan. Mereka hanya ada di angan – anganmu. Kerinduan masif yang membuat matamu buta,telingamu tuli, dengan kenyataan yang ada di dekatmu. Lupakan untuk menyelamatkan dunia untuk sejenak. Lihat dirimu, kawan – kawanmu, dan tempat tinggalmu. Sudah selamatkah mereka? Aku ingatkan lagi, bahwa utopia adalah sebuah kebohongan.

Kita sudah terlalu lama terjebak dalam pola pikir yang terbalik. Kita selalu melihat segala sesuatu dari eksistensinya terlebih dahulu, baru meninjau esensinya. Yang penting nilai ujian dapat A dulu, baru kemudian pikirkan manfaat ilmunya nanti di saat tes melamar pekerjaan.   

Salam Ganesha, Keluarga Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Jurusan, Kemahasiswaan, Revolusi, Perjuangan. Aku sudah sering melihatnya terpampang dan mendengarnya diserukan lantang. Lagu – lagu yang mereka sebut lagu perjuangan dinyanyikan dengan kesakralan tersendiri. Tembok yang mereka bangun cukup tinggi, memisahkan diri mereka dengan dunia nyata. Yang mereka lakukan adalah sakral, diluar itu adalah segala hal yang profan.

Kaderisasi, Ospek Jurusan. Sebuah sistem luhur yang memungkinkan transfer nilai dari yang tua pada yang muda. Tradisi bertahun – tahun yang begitu diubah langsung mengusik para pelakunya. Standar baku yang harus dilakukan untuk menjadi produk unggulan yang bisa dibanggakan. Uji nyali yang harus diikuti supaya bisa diterima di satu komunitas tertutup yang terkadang terasa begitu penuh kepalsuan.

Tidak ada yang salah dengan ini semua. Bisa jadi ini adalah karya besar abad ini. Sebuah sistem pemerintahan sempurna yang independen, sebuah sistem pendidikan sempurna yang paling efektif yang pernah ada, dan sebuah sistem sosial yang paling luhur yang pernah tercipta. Semua dihasilkan dari kerja otak maksimum serta pengamatan bertahun – tahun serta data akurat.

Tetapi mengapa seolah sistem yang baik ini diragukan, ditinggalkan, bahkan mengalami penurunan derajat nilainya?  Pelarangan kaderisasi, penurunan kualitas kader, ketidakpedulian massa kampus, dan masih banyak lagi hal – hal yang dijadikan sumber kekecewaan kaum heroik ini. Apa yang salah kalau begitu?

Ingat – ingat di mana kita hidup, kawan. Ini, sekali lagi kuingatkan, bukan masa dimana semua hal dimulai. Kejenuhan memenuhi pelosok ruang. Generasi – generasi mutakhir ini sangat cerdas, karena mereka mempertanyakan esensi dari semua ini. Ya, mereka mempertanyakan esensi! Mereka sangat pandai ekonomi, dan tahu betul asset mereka. Proyeksi laba – rugi selalu dibuat, dan alasan logis adalah satu – satunya cara untuk meyakinkan mereka. Tidak, aku koreksi: generasi mutakhir ini pun termasuk kita didalamnya!

Kita tidak bisa memaksakan apa yang kita inginkan begitu saja pada mereka. Sementara kita mempertaruhkan nyawa kita demi kebenaran dan keadilan, tuhan baru mereka adalah materi dan kapital. Ukuran nilai dan norma mereka jauh berbeda dengan apa yang ada di masa lampau. Lagi – lagi kuingatkan, lupakan saja romantisme masa lalu! Yang kita butuhkan disini bukan lagi dogma, melainkan invokasi kesadaran!

Untuk bisa terus mempertahankan kehidupannya, seekor mahkluk harus mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Jika tidak, pilihannya hanya bermigrasi atau mati. Kita sama – sama tahu bagaimana keadaan kampus ini. Apa yang diagung – agungkan dengan istilah ‘kemahasiswaan’ terlihat semakin memuakkan. Paling tidak begitulah menurut pandanganku. Kemahasiswaan beserta perangkatnya itu terlihat sebagai sebuah eksistensi eksklusif, utopis, dan penuh jebakan kemunafikan.

Pertanyakanlah lagi esensinya. Semua hal tercipta dengan tujuan penciptaannya masing – masing dan keadaan ini adalah sarana untuk menyadarkan kita untuk kembali mempertanyakan esensi. Kita terlena dengan sebuah eksistensi yang sudah berumur tua dan terlihat begitu kokoh. Membuat kita merasa nyaman dan sudah cukup mapan. Ini dia masalahnya: segala sesuatu yang berlebih tidak pernah menjadi sesuatu yang baik. Kita sudah merasa terlalu nyaman dan mapan, sehingga terlalu malas untuk merapikan sedikit kekacauan yang terjadi.

Mengajar murid – murid dengan karakter berbeda memberikan pelajaran tersendiri bagiku. Aku selalu mengajarkan hal yang sama pada setiap murid, namun dengan cara yang berbeda – beda. Ada murid yang sudah matang sejak awal, sehingga ia bisa langsung diberi arahan saja untuk memahami sebuah aspek. Namun ada murid yang perhatiannya mudah teralih, merasa yang ia pelajari tidak berguna sampai aku mencontohkannya dan menunjukan apa kegunaan ilmu tersebut.

Keadaan tersebut relevan dengan kejadian yang ada sekarang. Murid yang kini belajar padamu memiliki karakter yang berbeda. Seperti apa karakternya, aku yakin kamu bisa mengamati dan lebih paham mengenai hal tersebut. Metode pengajaranmu butuh perubahan, sesuai dengan keadaan mereka secara psikis. Jangan takut untuk melakukan perubahan karena kamu tetap akan mengajarkan hal yang sama!

Perubahan itu harus dimulai dari dirimu sendiri. Ubah caramu melihat, mendengar, berbicara, dan merasakan. Mungkin muridmu tidak mendengar dan memperhatikanmu karena ia tidak menyukai caramu membawa diri. Tawarkan ilmunya sekali lagi dan lihat apakah ia dengan kesadarannya mau belajar dan mencontoh hal baik dari dirimu.

Tidakkah kamu pikir semua ini terasa berdebu dan usang? Perubahan memang sudah terjadi, namun tidak cukup untuk murid barumu ini, generasi penerus dinastimu kelak. Jangan ragu untuk perubahan yang radikal, karena ia memang dibutuhkan. Diam dan statis tidak akan membawamu kemanapun!

Bagaimana caramu menjadikan perbedaan menjadi sebuah kekuatan? Bukan perdebatan kosong seperti yang selama ini terjadi. Bagaimana membuat mereka yang tidak pernah memperhatikanmu tertarik perhatiannya padamu? Menjadikan mereka yang tidak tahu menjadi tahu dan mau peduli. Pertanyakan esensi dari eksistensimu! Bukan eksistensi dari esensi – esensimu. Karena dari kekuatan yang besar, akan timbul tanggung jawab yang besar. Kejayaan tidak pernah diberi jalan yang mulus dan lebar. Selalu sempit, berbatu, dan berliku. Mungkin kamu tersesat sesekali dan melakukan kesalahan, tapi itulah anugerah manusia: kesalahan. Membuatmu berkali – kali lipat lebih waspada setelahnya. Dulu pernah ada istana megah berdiri di sini dan kini ia hanya sebuah puing – puing yang dingin. Tidak ada gunanya terus bercerita tentang bagaimana hebatnya istana itu dulu, bangun saja yang baru, kawan!

*Ditulis ditemani 3 album A Fire Inside, kopi, dan sakit kepala yang super mengganggu, anjinglah! Tulisan yang dibuat berbulan – bulan yang lampau untuk teman saya Ariza.


1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

Aku berhenti baca ketika mencapai tulisan membahas nilai A. Aku mulai emosi lagi..tapi untung bisa dipendam :P

alasan lain berhenti baca adalah mata aku udah capek ngeliat komputer..haha, kapan2 kusambung lagi bil!

komen dulu nih!
“Butuh seratus ‘karena’ untuk tiap sepuluh ‘mengapa’.”
quote yang bagus! hehe, pantes aja dulu PPKn bisa gampang dapet nilainya ya..habisnya fleksibel sih, gak eksak suatu angka.. :) )

bung, waktu yang ngubah semuanya, perubahan memang akan dan harus terjadi, tapi, karena perubahan itu juga di’ganggu’ ama beberapa faktor pelarangan dsb, jadinya makin lebih gak jelas..halah,,ergh,,himpunankuuuuu.. :’(
HMGM = HMO + HMME, trus GF kemana??? :( sial..

aku jadi stuck mau komen apa lagi.. wassalam aja lah :) )

Komentar oleh tara




Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>