
Ada banyak macam film dengan banyak sensasi yang berbeda – beda. Sebagian film begitu membosankan dan terasa biasa saja. Tipikal pahlawan, tipikal antagonis, wuff semua berakhir dengan happy ending. Atau sebuah benang kusut yang membuat jidat berkerut, memaksa tinggal lebih lama saat benang terurai satu demi satu, dan voila sebuah akhir mengejutkan yang menantang cara pikir membuatmu bersyukur tidak melewatkan satu frame pun dari pikiran. Lalu yang satu lagi, adalah film yang dari awal membuatmu tertarik, semakin lama semakin membuatmu bergairah, lalu orgasme pada akhirnya tanpa harus berpikir panjang atau mengurai benang. Untuk saya, kategori terakhir mengandung Grindhouse di dalamnya.
Sebuah film double-feature karya dua sutradara favorit saya: Quentin Tarantino dan Robert Rodriguez. Merupakan tribute untuk film – film ‘grindhouse’, sebuah istilah yang mengacu kepada teater yang spesialisasinya memutar B-movies. Tema yang diusung tentu sangat B: eksploitasi, darah, kejijikan, monster, zombie, sex, dan kekerasan berlebih. Plot absurd adalah suatu kewajiban. Keabsurdan itu adalah sebuah kenikmatan dalam menikmati B-movies. Biasanya, sensasi yang dihasilkan bahkan tidak terduga. B-movies adalah sekumpulan film yang mampu membuat saya jiik, seram, tegang, dan geli dalam satu waktu yang bersamaan.
Film ini terbagi menjadi dua bagian: Planet Terror dan Death Proof. Masing – masing berdiri sendiri dan diarahkan oleh sutradara yang berbeda. Planet Terror adalah karya Rodriguez, sementara Death Proof adalah milik Tarantino. Setiap film disajikan seolah – olah tengah disaksikan di sebuah bioskop, lengkap dengan trailer film dan pesan – pesan dari teaternya.
Death Proof adalah cerita tentang seorang stuntman psikopat bernama Stuntman Mike (Kurt Russell). Dengan mengendarai sebuah mobil yang ia klaim ‘death proof’, ia membantai gadis – gadis yang ia jadikan target. Karena tidak ada bukti yang menunjukan bahwa ia adalah seorang pembunuh gila yang berkeliaran dengan mobil gila, maka niat buruknya dapat terulang lagi. Sampai pada suatu saat, sebuah pengendara yang sama gilanya, mengendarai mobil yang dipaksa ‘death proof’, bertemu dengan sang pembantai di jalan. Siapakah yang bertahan dalam balapan menantang ajal dengan mobil yang tahan ajal ini?
Planet Terror membawa kita ke sebuah pertempuran untuk survival. Sebuah virus menyerang warga dan mengubah mereka menjadi zombie. Mereka yang belum terinfeksi berkumpul dan berusaha untuk bertahan hidup, dipimpin oleh seorang maestro senjata El Wray (Freddy Rodriguez) dan stripper berkaki senjata M4, Cherry Darling (Rose McGowan). Ternyata virus tersebut merupakan senjata biologis yang dikuasai oleh sekelompok tentara pembelot pimpinan Lt. Muldon (Bruce Willis). Fim zombie selalu menyiapkan akhir yang mengejutkan, tidak terkecuali Planet Terror.
Grindhouse, segera menjadi favorit saya diantara film – film Tarantino dan Rodriguez lainnya. Sebelumnya saya menjagokan Kill Bill dan El Mariachi, tetapi ada sejenis kegilaan tersendiri saat menyaksikan Grindhouse. Cukup banyak special effect yang digunakan untuk film ini. Selain untuk membuat adegan – adegan absurd (kekerasan dan kegilaan), efek yang cukup menarik adalah untuk membuat kesan ‘kuno’ pada film ini. Gambar buram, layar bergoyang, bahkan pita yang terbakar. Gabungan efek yang tepat, fantasi yangliar, serta shoot angle khas yang diberikan masing – masing sutradara menjadikan film ini meninggalkan kesan tersendiri. Kalau kamu menikmati film – film zombie, violence pack action, serta sedikit softcore teaser, maka film ini tentu akan membekas cukup lama juga untukmu.
Diarsipkan di bawah: Video
Kalau ada yang membuat saya begitu menikmati mendengarkan Modern Life is War, maka itu adalah kebrutalan yang mereka ciptakan. Kemarahan bercampur sebuah kontemplasi akan sebuah jalan hidup. Live mereka di CBGB yang legendaris cukup membuat saya terpana akan energi yang mereka hidangkan. Silahkan nikmati kebrutalan kontemplatif ini dengan sepenuh hati. The world isn’t against you, my dear. It just doesn’t care.
There she was
Walked barefoot
With a long black hair and torn up robe
Shielded by
Burning sun
And the dream that she once had
Empty eyes
Black as night
Singing songs of hope and praise
She forgot
Long before
Of the name that she once knew
Never now she cries (all the tears gone by)
Agonies she’d felt (all the shame she bears)
She’s holding truths and nameless flag
And burnt out seeds along the way
Words escape her mouth (all the things she loves)
Beauty is her curse (all the things she had)
She never screams the injustice
Of being raped a thousand times
Her body may sold but her mind can’t be bought
She never be slave and never be owned
She’s alone but independent
Pure and soft but never fragile
Sands and fogs can’t block her path and
She survived an endless desert
Walking through an obscure city
With blinding lights astray the pilgrim
Facing demons made of flesh and greed
The mask we used to wear
She sings
A lullaby
Of better days
And better place
Sleeps on a bed made of shells
She reads
A bedtime tales
Of better life
And better fate
Sleeps on bed made of shells
*A Little Girl Called Innocent adalah lagu yang saya tulis untuk band saya, Maut. Kamu bisa cek Maut di www.myspace.com/Mautedanlah

Sebuah dokumenter yang begitu jujur, mengharukan, dan juga sangat inspiratif. From Mao to Mozart menceritakan kunjungan Isaac Stern, seorang violinist, ke negeri China pada tahun 1979 dalam rangka kunjungan budaya. China pada masa itu baru saja mengakhiri masa revolusi budaya pada tahun 1976 dan mulai membuka diri terhadap pengaruh luar (terutama budaya barat). Stern, yang sebenarnya hanya dimaksudkan untuk memberikan sebuah konser saja oleh pemerintah China, memperpanjang kunjungannya hingga sebulan, berkelana memberikan master class serta konser, melakukan sebuah pertukaran budaya serta ilmu.
Inti film berputar di saat – saat Stern memberikan master class bagi banyak musisi – musisi muda (sebagian malah terlihat seperti balita lebih tua sedikit) di kota yang ia singgahi. Stern, yang begitu takjub dengan kemampuan musisi – musisi muda ini, menganggap kekurangan terbesar mereka adalah kurangnya passion dan emosi dalam permainan mereka. Dengan pendekatan yang sangat jauh dari pembahasan teknik bermain, Stern mengingatkan betapa pentingnya untuk bermain dengan mengikuti dorongan perasaan.
Di film ini kita dapat melihat sedikit banyak mengenai rahasia kemajuan negara China. Dalam satu bagian film, ditunjukan bagaimana ketatnya disiplin serta konsentrasi para pelajarnya dalam belajar. Stern mengunjungi konservatori musik, sekolah opera klasik China, dan pusat olahraga yang mendidik atlet – atlet. Disana Stern lagi – lagi dibuat terkaget – kaget melihat banyak sekali pemuda dan anak – anak berbakat yang berlatih dengan begitu giat. Stern melihat atlet yang dididik sejak usia dini, pemuda – pemuda dengan kemampuan kungfu yang indah, dan juga anak – anak kecil yang sangat piawai bermain alat musik. Dibalik itu semua, Stern masih terganggu dengan satu hal: kurangnya emosi dari anak – anak tersebut. Mereka terlihat seolah menahan perasaan mereka sendiri.
Sebuah dialog dengan Tan Shuzhen, seorang kepala konservatori dan professor violin, mengungkap sisi gelap revolusi budaya di China. Revolusi budaya (secara kasar) adalah sebuah upaya “pemurnian” budaya China dari pengaruh asing, menciptakan sebuah “budaya asli” China dengan cara “menghapus” semua pengaruh budaya asing. Hal ini berdampak pelabelan sebagai criminal bagi para pelaku seni dan budaya yang mempelajari budaya asing. Semua seniman yang mempelajari budaya asing akan dipenjara, disiksa, dan mengalamai pelecehan, serta pelanggaran HAM yang luar biasa. Tan Shuzen, adalah salah seorang saksi hidup sekaligus korban peristiwa tersebut karena ia seorang pemain violin dan pemimpin sekolah musik tersebut.
Stern, terlihat dengan begitu penuh dedikasi, mengajarkan keindahan musik serta bagaimana menikmatinya dengan perasaan. Ajaran – ajarannya sangat sedikit menyinggung masalah teknik bermain. Bahkan, ajaran – ajarannya demikian filosofis dan luas, bahkan tidak terlihat bahwa ia mengajar ilmu violin. Stern menekankan pentingnya menyanyikan suatu lagu agar mengerti frase dengan baik, memaksa setiap anak didiknya untuk membiarkan emosinya dan musik meluap dari dalam hati, dan terus mengingatkan untuk terus berusaha menikmati keindahan dari musik yang mereka mainkan. Bagi Stern, tidak ada not yang sia – sia. Tidak ada lagu yang sia – sia. Bagi Stern, yang jadi masalah bukan apakah lagu tersebut begitu sulit sehingga ia terlihat lebih baik dari yang lain. Bagi Stern, bagaimana caranya memberikan nyawa bagi setiap not, menggunakan perasaan saat memainkan musik seolah kita adalah sang komposer, dan bagaimana agar musik dapat tersampaikan dengan baik adalah di atas segalanya.
Film ini, menurut saya sangat cocok untuk ditonton musisi manapun, terlepas apakah ia main musik klasik atau tidak. Banyak sekali ajaran filosofis Stern yang dapat diterapkan. Stern bahkan mengatakan bahwa, ” Kita tidak menggunakan musik untuk bermain violin. Tetapi kita menggunakan violin untuk memainkan musik.” Musik, bagi Stern, adalah bahasa. Ia bahasa yang unik dan setiap orang bisa mengartikan atau menyampaikan makna tersebut dengan gayanya masing – masing. Walau demikian, musik adalah bahasa universal. Untuk itu, ia harus disampaikan dengan jelas, dimana instrument adalah medianya serta teknik adalah metodenya.
Selain itu, kita juga bisa banyak belajar dari bangsa China dalam hal edukasinya. Rahasia dari kemajuan mereka terlihat di film ini: kedisiplinan, konsistensi, dan pendidikan sejak usia dini. Sekolah musik dan olahraga di film ini menerapkan sistem asrama. Dimana dengan cara tersebut, anak – anak terbiasa hidup mandiri dan disiplin. Intensitas latihan serta konsentrasi oleh masing – masing murid sangat luar biasa. Disamping itu, motivasi untuk mendapatkan pekerjaan menjadi salah satu motivasi para murid (terutama yang berusia remaja). Mereka berlomba – lomba untuk menaikan teknik mereka, agar kelak lulus mereka bisa mendapat pekerjaan yang baik. Mereka berharap dengan cara menunjukan teknik merekalah pekerjaan bagus bisa didapat.
Pada DVD yang saya miliki, terdapat beberapa documenter tambahan. Musical Encounter adalah sebuah dokumenter yang menceritakan perjalanan kembali Stern ke China setelah 20 tahun. Di sana, ia bertemu kembali dengan beberapa anak didiknya, yang telah menjelma menjadi musisi virtuoso kenamaan. The Gentlemen from Shanghai menceritakan kisah hidup Tan Shuzen, seorang pemain dan pembuat violin yang juga seorang professor. Perjuangannya semasa revolusi budaya dan usahanya dalam membangun konservatori merupakan bukti dedikasi yang luar biasa. Musik, yang ia cintai, hampir membuatnya terbunuh.
Musik adalah bahasa universal dan di film ini kita dapat melihatnya dalam momen – momen yang begitu nyata, begitu jujur. Musik menghapus perbedaan bahasa, warna kulit, dan kewarganegaraan. Di sini kita juga dapat melihat dedikasi yang sangat murni oleh seorang guru kepada muridnya, seperti yang ditunjukan Shuzen maupun Stern. Sebuah campuran antara cinta yang begitu dalam terhadap ilmu yang mereka tekuni serta keinginan kuat untuk melihat anak didik yang berhasil dalam kehidupannya. Shuzen mampu bertahan selama berbulan – bulan dipenjara di sebuah kamar septic tank. Sementara Stern tidak menyerah dalam mengajar walau harus dengan bahasa “pra-sejarah” sekalipun. Bahkan, ia berniat mendatangkan piano terbaik dari Peking ke Beijing hanya agar murid – murid dapat melihat performa musikalnya dalam keadaan terbaik!
Sebuah potongan kalimat yang sangat menarik, yang mungkin dapat kita jadikan renungan bersama (yang dapat saya kutip berdasar ingatan saya):
“Setelah revolusi budaya berakhir, timbul beberapa pendapat mengenai budaya China. Pendapat pertama mengatakan, kita sebenarnya cukup mempelajari budaya China saja dan kita tingkatkan ia hingga ke tingkat yang tinggi dengan cara apapun juga. Pendapat kedua mengatakan, kita tidak hanya belajar budaya China, tetapi juga budaya barat. Kita saring apa saja yang dapat kita gunakan untuk memajukan budaya China. Untuk tahu rasa buah pir, tentu kita harus memakan buah pir, karena jika tidak maka kita tidak akan pernah benar – benar tahu rasa tersebut. Tentu saja, agar mengetahui, maka kita harus mempelajarinya.”
Berikut cuplikan yang sangat berkesan dari bagian akhir film ini:
Diarsipkan di bawah: Artwork
Artwork yang dibuat spontan setelah gig bersama Vincent Vega di Selasar Sunaryo beberapa bulan yang lalu. No Purpose No Design. Apa jadinya semesta tanpa tujuan sedemikian itu? Saya membayangkan kehampaan, kekacauan. Tetapi saya masih merasa ada yang kurang, sepertinya tidak demikian juga jawaban yang memuaskan untuk saya. Saya berpikir dan berpikir hingga menemukan jawabannya: Semesta lain dengan hukum alam yang lain pula.
Cek Vincent Vega di http://www.myspace.com/vincentvegatheband
Era yang Hilang?
Saat mengucapkan kata ‘gitar’, apa yang mungkin muncul di benak banyak orang adalah ‘Spanyol’, ‘Rock’, ‘Satriani’, atau mungkin ‘Fender’. Sempitkan lagi kata tersebut menjadi ‘gitar klasik’ dan mungkin kita dapatkan ‘Tarrega’, ‘Flamenco’, ‘Romance de Amor’, atau ‘Segovia’. Pemain gitar klasik pada umumnya lebih familiar dengan repertoire yang berbau Spanish, dari sekian banyak repertoire yang tersedia untuk dimainkan. Pada urutan berikutnya, musik – music modern a la Dyens dan York, lalu komposer baroque dan era klasik seperti Bach, Scarlatti, dan Sor. Musik bergaya romantic seolah tidak demikian populer dan pada akhirnya menenggelamkan sejumlah karya – karya hebat. Musik gitar untuk abad ke-19 seolah menjadi periode yang hilang dan jarang dikenal orang kecuali dalam pilihan yang demikian sempit.
Saya pernah berhadapan dengan situasi dimana kejenuhan menyerang saat bermain. Saya banyak memainkan lagu, baik secara serius dipelajari ataupun sekedar sight reading untuk kesenangan saja. Namun pilihan yang saya hadapi saat itu mendorong saya untuk menemui jenis musik yang – katakanlah – bentuknya lagi – lagi seperti itu. Entah dia terdengar sangat Spanish, musik dengan melodi dan progresi chord yang sangat predictable, atau musik – musik modern yang bermain dengan nada – nada disonan serta sejumlah efek, dan yang terakhir bentuk baroque yang pada saat itu membuat kejenuhan saya semakin menjadi – jadi.
Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah perpustakaan digital yang memuat setumpuk repertoire musik gitar abad ke-19. Di sana, saya mulai menyingkirkan nama – nama seperti Dyens, York, Bach, Scarlatti, Albeniz, Tarrega, Barrios, dan Villa-Lobos. Apa yang ada di dalam perpustakaan tersebut mengubah cara pandang saya terhadap komposer – komposer yang sampai saat itu saya remehkan: Sor, Aguado, Giulliani. Dan menambah sederet nama lain yang menarik perhatian saya seperti Regondi, Matiegka, dan Coste. Namun, dari sekian banyak nama dan musik yang saya coba mainkan, seorang komposer dengan setumpuk karyanya berhasil membuat saya begitu tertarik untuk mengenalnya lebih jauh: Johann Kaspar Mertz.
Mertz, sebelumnya, hanya saya kenal dari sebuah karyanya yang berjudul Fantaisie Hongroise (Hungarian Fantasy). Musiknya sangat virtuoso: penggunaan chord, interval, appergio, dan scale yang begitu rapat. Alunan nadanya pun terdengar sangat berbeda dari music – music Spanish atau music era klasik khas repertoire standar untuk gitar. Ia terdengar lebih ‘penuh’, lebih emosional, dan arah musiknya sangat tidak tertebak, sesuatu yang belum pernah saya dengar. Untuk pertama kalinya, saya melihat gitar sebagai sebuah instrumen solo yang benar – benar layak konser dan mampu menandingi kompleksitas piano. Gitaris yang memainkannya adalah seorang wanita bernama Xuefei Yang, seorang gitaris dari China.
Sampai sekarang, saya masih kesulitan untuk tahu lebih banyak tentang Mertz. Kebanyakan informasi yang beredar umumnya hanya memuat biografi singkat yang kurang lebih sama. Akhirnya saya menemukan sebuah situs yang sangat membantu, yaitu Early Romantic Guitar. Di sana terdapat banyak informasi mengenai musik gitar abad ke – 19, juga memberikan informasi mengenai instrumen dan panduan mengenai repertoire. Selain itu masih banyak lagi situs – situs yang memberikan informasi, namun tidak selengkap alamat yang disebut sebelumnya.
Sebuah introduksi yang menarik, ditulis oleh seorang gitaris dan bangsawan Rusia, Nicholas Makaroff. Dari The Memoirs of Makaroff (diambil dari Early Romantic Guitar):
”…Mertz, whose manuscripts, not in my possession, represent the precious pearls of guitar repertoire! …
Mertz was a tall man, about 50, neither fat nor thin, very modest and with no hint of a pretense to greatness about him. As soon as it was feasible, I offered him my guitar and asked him to play something. He took it readily and immediately began to play. It was a fascinating large work.
“By whom is this piece written?” I asked.
“By me,” was the answer. “It has not been published yet.” Then he played another piece, and still another. Each one better than the last — all magnificent. I was dumbfounded with surprise and admiration. I felt like a Columbus discovering a new America, for here was the great guitar composer I had long given up hope of finding. I had been searching for him everywhere, among the countless pieces of music I bought throughout Russia and Europe. Afterwards, I had thrown them away in despair, finding them worthless rubbish, cooked up by talentless modern composers such as Padovetz, Carcassi, Bobrovich, Bayer, Soussman, Kuffner, etc..
In contrast, the music played by Mertz, to which I listened with ever-growing rapture, contained everything — rich composition, great musical knowledge, excellent development of an idea, unity, novelty, grandeur of style, absence of trivial expression and multiplicity of harmonic effects.
At the same time, there was the clear basic melody, which kept surging above the surface of arpeggios and chords. The effects were brilliant and daring. Basic to all this, he had a deep understanding of the instrument with all its possibilities and hidden secrets. In his full-hearted compositions, I liked the finales and introductions especially well, because they were unusual and were wonderfully developed. They could be removed from the rest and played separately without losing their power and musical significance. Thus, they could give full satisfaction to any listener. “
Sedikit yang Dapat Ditemukan Tentang Sang Komposer

Johann Kaspar Mertz lahir di Pressburg, Hungaria pada 17 Agustus 1806 dan meninggal di Vienna pada 14 Oktober 1856. Terlahir dalam kemiskinan, namun sempat mengenyam pendidikan dasar instrumen gitar dan flute. Mertz terlahir sebagai seorang prodigy. Demi membantu keadaan finansial keluarga, ia sudah harus memberikan les gitar dan flute pada usia 12 tahun.
Mertz menyempurnakan tekniknya secara otodidak. Pada usia 34 tahun ia pindah ke Vienna. Di sana, ia menjadi seorang guru gitar dan seorang solois di Court Theatre di bawah patronasi Empress Carolina Augusta. Kesuksesannya tiba dengan begitu cepat, membuatnya menjadi court guitarist untuk sang Empress. Selama 2 tahun berikutny, Mertz melakukan serangkaian tour ke Moravia, Polandia, Rusia, Stettin, Dresdan, Berlin, Breslau, Chemnitz, Leipzig, dan Prague.
Di salah satu rangkaian konser tersebut, Mertz bertemu seorang pianis, Josephine Plantin. Sebuah kebetulan, dimana keduanya tampil pada program konser yang sama. Keduanya menjalin persahabatan yang berujung pada sebuah concert tour berikutnya yang menyebabkan keduanya memperoleh ketenaran karena penampilan yang brilian serta artistik dan juga menghasilkan kesuksesan finansial. Pada akhirnya, 14 Desember 1842 keduanya menikah di Prague. Sekembalinya ke Vienna, keduanya menjadi terkenal di kalangan bangsawan dan banyak diminta untuk mengajarkan instrumen mereka ke kalangan elit tersebut. Murid – murid Mertz yang paling terkenal adalah Johann Dubez – yang nantinya dikenal sebagai seorang gitaris virtuoso dari Eropa – dan Duchess Ledochofska – yang lebih dikenal sebagai seorang virtuoso mandolin. Selain menjadi seorang gitaris terkemuka di zamannya, ia juga seorang musisi yang mampu memainkan flute, violoncello, dan mandolin dengan tidak kalah baiknya. Walau bukan bidang yang ia tekuni, Mertz juga membuat komposisi untuk instrument – instrument tersebut.
Kesibukannya pada akhirnya terhenti oleh sakit yang dideritanya. Selama 2 tahun, dari 1845-1847 ia tidak dapat tampil dalam pertunjukan apapun. Sebuah kecelakaan memperburuk kondisi kesehatannya, yaitu saat ia mengalami overdosis strychnine akibat kesalahan takaran yang dilakukan oleh istrinya. Strychnine adalah obat yang digunakan untuk perawatan neuralgia, penyakit yang kemungkinan diderita Mertz saat itu. Selama masa penyembuhan, Josephine banyak memainkan musik – musik romantik (musik pada zaman itu) di piano untuk menghibur suaminya. Hal ini banyak mempengaruhi karya – karyanya setelah itu, terutama dalam karakter suara yang dihasilkan oleh lagu – lagunya, serta teknik tangan kanan yang digunakan untuk memainkan komposisi – komposisi tersebut.
Pada musim semi tahun 1848, Mertz kembali mengadakan konser. Apresiasi publik begitu luar biasa. Sampai – sampai pada hampir setiap pertunjukan gedung pertunjukan selalu digunakan hingga kapasitas maksimumnya dan banyak penonton yang ditolak masuk karena sudah tidak tersisa ruang lagi.
Di tahun 1856, seorang bangsawan Rusia, Nicholas Makaroff mengadakan sebuah kompetisi internasional dalam komposisi. Hal ini dimaksudkan untuk merangsang lahirnya karya – karya baru dan memperluas popularitas gitar sebagai instrumen konser. Kompetisi ini diikuti 31 kontestan dan para juri menerima 64 komposisi. Diantaranya merupakan karya musisi ternama era itu seperti Leonard (seorang violinist), Servais, Demunck (keduanya adalah violoncellist), dan beberapa lagi adalah orang – orang dari Brussels Conservatoire of Music. Mertz mengirimkan Opus 65: Trois Morceaux pour Guitarre untuk kompetisi tersebut. Komposisi ini adalah karya terakhir Mertz. Tekanan kesibukan serta penyakit yang mendera tubuhnya akhirnya mencabut nyawanya pada 14 Oktober 1858. Opus 65 mendapat juara pertama dalam kompetisi Makaroff, namun sayang sang komposer tidak sempat mengetahui kabar tersebut.
Permata yang Tersembunyi
Musik – music karya Mertz sangat kental pengaruh romantiknya. Sebuah suguhan yang melankolis, emosional, kompleks, serta membutuhkan keahlian virtuoso pada sebagian besar komposisinya. Model musiknya dapat dikelompokan dalam kategori yang sama dengan music – music Chopin, Schubert, Mendelssohn, dan Schumann. Sangat berbeda dengan model ‘klasik’ Mozart atau Haydn seperti yang dimiliki juga oleh Fernando Sor dan Aguado. Juga sangat berbeda dengan gaya Italia seperti Rosinni dan Giulliani.

Dalam konser, Mertz menggunakan gitar 10 senar. Kemungkinan besar adalah sebuah gitar Stuffer, seorang luthier dari Vienna. Seringkali Josephine, istrinya, melakukan duet bersama Mertz dalam konser. Pada masa itu, kombinasi piano dan gitar masih menjadi hal yang umum dan mungkin dilakukan (tidak seperti sekarang). Hal ini disebabkan oleh karakteristik gitar era romantic yang memiliki pitch yang lebih tinggi, karakter timbre yang lebih kuat, serta tambahan 4 dawai yang memungkinkan terjadinya resonansi penguat. Selain itu, pianoforte (piano di zaman tersebut) bentuknya pun berbeda dari piano modern: lebih kecil, karakter suara yang lebih lembut, dan timbre yang sangat mirip dengan gitar. Hal ini menyebabkan piano dan gitar pada masa itu dapat menjadi partner yang seimbang.
Karya – karya Mertz, dapat dikatakan sebuah permata yang terlupakan. Banyak karyanya yang sangat pantas untuk kembali dihidupkan di ruang – ruang konser. Opera Revue Op.8 adalah salah satu karya yang layak ditampilkan. Merupakan kumpulan 33 lagu berdasarkan tema opera dari opera – opera terkenal di zamannya. Mirip dengan Rossiniana karya Giuliani, Opera Revue membutuhkan teknik yang demikian tinggi dan mendorong posibilitas gitar hingga ke batas tertingginya. Setipe dengan transkripsi orchestra kepada piano atau gitar solo oleh Listz atau Yamashita. Il Trovatore dan Rigoletto adalah favorit saya dari Op.8 ini (keduanya adalah opera karya Verdi).
Bardenklang Op.13 berisi 13 lagu – lagu pendek dengan tingkat kesulitan yang bervariasi. Setiap lagu menceritakan sebuah cerita atau mood/afeksi tertentu. Liebeslied, Romanze, dan Fingal’s Cave menjadi pilihan pribadi saya. Menantang untuk dimainkan, namun sebagai gantinya alunan music indah yang begitu khas “Mertz” akan menghilangkan penat akibat berusaha berlatih bersusah payah.
Karya – karya lain yang saya anjurkan untuk dengarkan atau coba mainkan adalah Harmonie du Soiree, Concierto, Trois Nocturne Op.4 (tidak terlalu sulit dimainkan dan sangat mengalun), dan Op.65 (terutama Fantaisie Hongroise). Lalu Elegie, yang merupakan lagu yang paling saya senangi secara pribadi, sebuah syair ratapan dengan gaya yang sangat romantic.
Beberapa gitaris yang merekam music – music Mertz yaitu David Leisner, David Russell, Pepe Romero, dan Pavel Steidl. Manuskrip – manuskrip Mertz dapat ditemukan di The Royal Library atau di The Music Library of Sweeden.
Video-video
Xuefei Yang | Hungarian Fantasy
Bruno Giuffredi | Elegie
Link – link Jalan – jalan
www.earlyromanticguitar.com | informasi musik gitar abad ke – 19
www.kresse-gitarren.de | luthier gitar romantik
http://www.muslib.se/ebibliotek/boije/ | The Music Library of Sweeden
https://rex.kb.dk/F/-?func=file&file_name=find-b&local_base=mus01_rbs&con_lng=ENG | katalog dari koleksi gitar The Royal Library











