sisa.ruang.diri


From Mao to Mozart: Isaac Stern in China
April 22, 2008, 1:11 pm
Diarsipkan di bawah: Review, Tulisan

From Mao to Mozart

Sebuah dokumenter yang begitu jujur, mengharukan, dan juga sangat inspiratif. From Mao to Mozart menceritakan kunjungan Isaac  Stern, seorang violinist, ke negeri China pada tahun 1979 dalam rangka kunjungan budaya. China pada masa itu baru saja mengakhiri masa revolusi budaya pada tahun 1976 dan mulai membuka diri terhadap pengaruh luar (terutama budaya barat). Stern, yang sebenarnya hanya dimaksudkan untuk memberikan sebuah konser saja oleh pemerintah China, memperpanjang kunjungannya hingga sebulan, berkelana memberikan master class serta konser, melakukan sebuah pertukaran budaya serta ilmu.

Inti film berputar di saat – saat Stern memberikan master class bagi banyak musisi – musisi muda (sebagian malah terlihat seperti balita lebih tua sedikit) di kota yang ia singgahi. Stern, yang begitu takjub dengan  kemampuan musisi – musisi muda ini, menganggap kekurangan terbesar mereka adalah kurangnya passion dan emosi dalam permainan mereka. Dengan pendekatan yang sangat jauh dari pembahasan teknik bermain, Stern mengingatkan betapa pentingnya untuk bermain dengan mengikuti dorongan perasaan.

Di film ini kita dapat melihat sedikit banyak mengenai rahasia kemajuan negara China. Dalam satu bagian film, ditunjukan bagaimana ketatnya disiplin serta konsentrasi para pelajarnya dalam belajar. Stern mengunjungi konservatori musik, sekolah opera klasik China, dan pusat olahraga yang mendidik atlet – atlet. Disana Stern lagi – lagi dibuat terkaget – kaget melihat banyak sekali pemuda dan anak – anak berbakat yang berlatih dengan begitu giat. Stern melihat atlet yang dididik sejak usia dini, pemuda – pemuda dengan kemampuan kungfu yang indah, dan juga anak – anak kecil yang sangat piawai bermain alat musik. Dibalik itu semua, Stern masih terganggu dengan satu hal: kurangnya emosi dari anak – anak tersebut. Mereka terlihat seolah menahan perasaan mereka sendiri.

Sebuah dialog dengan Tan Shuzhen, seorang kepala konservatori dan professor violin, mengungkap sisi gelap revolusi budaya di China. Revolusi budaya (secara kasar) adalah sebuah upaya “pemurnian” budaya China dari pengaruh asing, menciptakan sebuah “budaya asli” China dengan cara “menghapus” semua pengaruh budaya asing. Hal ini berdampak pelabelan sebagai criminal bagi para pelaku seni dan budaya yang mempelajari budaya asing. Semua seniman yang mempelajari budaya asing akan dipenjara, disiksa, dan mengalamai pelecehan, serta pelanggaran HAM yang luar biasa. Tan Shuzen, adalah salah seorang saksi hidup sekaligus korban peristiwa tersebut karena ia seorang pemain violin dan pemimpin sekolah musik tersebut.

Stern, terlihat dengan begitu penuh dedikasi, mengajarkan keindahan musik serta bagaimana menikmatinya dengan perasaan. Ajaran – ajarannya sangat sedikit menyinggung masalah teknik bermain. Bahkan, ajaran – ajarannya demikian filosofis dan luas, bahkan tidak terlihat bahwa ia mengajar ilmu violin. Stern menekankan pentingnya menyanyikan suatu lagu agar mengerti frase dengan baik, memaksa setiap anak didiknya untuk membiarkan emosinya dan musik meluap dari dalam hati, dan terus mengingatkan untuk terus berusaha menikmati keindahan dari musik yang mereka mainkan. Bagi Stern, tidak ada not yang sia – sia. Tidak ada lagu yang sia – sia. Bagi Stern, yang jadi masalah bukan apakah lagu tersebut begitu sulit sehingga ia terlihat lebih baik dari yang lain. Bagi Stern, bagaimana caranya memberikan nyawa bagi setiap not, menggunakan perasaan saat memainkan musik seolah kita adalah sang komposer, dan bagaimana agar musik dapat tersampaikan dengan baik adalah di atas segalanya.

Film ini, menurut saya sangat cocok untuk ditonton musisi manapun, terlepas apakah ia main musik klasik atau tidak. Banyak sekali ajaran filosofis Stern yang dapat diterapkan. Stern bahkan mengatakan bahwa, ” Kita tidak menggunakan musik untuk bermain violin. Tetapi kita menggunakan violin untuk memainkan musik.” Musik, bagi Stern, adalah bahasa. Ia bahasa yang unik dan setiap orang bisa mengartikan atau menyampaikan makna tersebut dengan gayanya masing – masing. Walau demikian, musik adalah bahasa universal. Untuk itu, ia harus disampaikan dengan jelas, dimana instrument adalah medianya serta teknik adalah metodenya.

Selain itu, kita juga bisa banyak belajar dari bangsa China dalam hal edukasinya. Rahasia dari kemajuan mereka terlihat di film ini: kedisiplinan, konsistensi, dan pendidikan sejak usia dini. Sekolah musik dan olahraga di film ini menerapkan sistem asrama. Dimana dengan cara tersebut, anak – anak terbiasa hidup mandiri dan disiplin. Intensitas latihan serta konsentrasi oleh masing – masing murid sangat luar biasa. Disamping itu, motivasi untuk mendapatkan pekerjaan menjadi salah satu motivasi para murid (terutama yang berusia remaja). Mereka berlomba – lomba untuk menaikan teknik mereka, agar kelak lulus mereka bisa mendapat pekerjaan yang baik. Mereka berharap dengan cara menunjukan teknik merekalah pekerjaan bagus bisa didapat.

Pada DVD yang saya miliki, terdapat beberapa documenter tambahan. Musical Encounter adalah sebuah dokumenter yang menceritakan perjalanan kembali Stern ke China setelah 20 tahun. Di sana, ia bertemu kembali dengan beberapa anak didiknya, yang telah menjelma menjadi musisi virtuoso kenamaan. The Gentlemen from Shanghai menceritakan kisah hidup Tan Shuzen, seorang pemain dan pembuat violin yang juga seorang professor. Perjuangannya semasa revolusi budaya dan usahanya dalam membangun konservatori merupakan bukti dedikasi yang luar biasa. Musik, yang ia cintai, hampir membuatnya terbunuh.

Musik adalah bahasa universal dan di film ini kita dapat melihatnya dalam momen – momen yang begitu nyata, begitu jujur. Musik menghapus perbedaan bahasa, warna kulit, dan kewarganegaraan. Di sini kita juga dapat melihat dedikasi yang sangat murni oleh seorang guru kepada muridnya, seperti yang ditunjukan Shuzen maupun Stern. Sebuah campuran antara cinta yang begitu dalam terhadap ilmu yang mereka tekuni serta keinginan kuat untuk melihat anak didik yang berhasil dalam kehidupannya. Shuzen mampu bertahan selama berbulan – bulan dipenjara di sebuah kamar septic tank. Sementara Stern tidak menyerah dalam mengajar walau harus dengan bahasa “pra-sejarah” sekalipun. Bahkan, ia berniat mendatangkan piano terbaik dari Peking ke Beijing hanya agar murid – murid dapat melihat performa musikalnya dalam keadaan terbaik!

Sebuah potongan kalimat yang sangat menarik, yang mungkin dapat kita jadikan renungan bersama (yang dapat saya kutip berdasar ingatan saya):

“Setelah revolusi budaya berakhir, timbul beberapa pendapat mengenai budaya China. Pendapat pertama mengatakan, kita sebenarnya cukup mempelajari budaya China saja dan kita tingkatkan ia hingga ke tingkat yang tinggi dengan cara apapun juga. Pendapat kedua mengatakan, kita tidak hanya belajar budaya China, tetapi juga budaya barat. Kita saring apa saja yang dapat kita gunakan untuk memajukan budaya China. Untuk tahu rasa buah pir, tentu kita harus memakan buah pir, karena jika tidak maka kita tidak akan pernah benar – benar tahu rasa tersebut. Tentu saja, agar mengetahui, maka kita harus mempelajarinya.”

Berikut cuplikan yang sangat berkesan dari bagian akhir film ini:


& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

cukup unik!!!!
seorang pecinta musik underground ternyata bisa menyelam dalam dunia klasik.
sangat kontras!!!
mengingat seorang guru pernah pernah berkata
“kesalahanmu adalah menjadi seorang drumer(red-dramer), karena itu hanya akan menghilangkan kepekaan diri terhadap musik klasik”
how about you???

Komentar oleh tazmania

well, sebaliknya, saya menantang kepekaan saya dalam kondisi yang sangat ekstrim. bertahan dalam arus moshpit dan berada dalam kondisi diam apresiatif saat sebuah resital, sama – sama butuh kepekaan dan keteguhan. lagipula saya menikmati keduanya, terserah komentar orang ;)
oh ya, jika kamu ada di bandung, tanggal 17 oktober 2008 nanti saya resital di gedung kompas. datanglah kalau ada waktu..

Komentar oleh thesuicideproject




Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>