Diarsipkan di bawah: Review

Decemberunderground is a time and a place. It is where the cold can huddle together in darkness and isolation -Davey Havoc
Album ketujuh dari band A Fire Inside (http://www.afireinside.net/). Jujur, pada saat pertamakali mendengarkan album ini saya sangat kecewa. Saya mengharapkan suguhan sebuah olahan musik goth-punk-rock-core ala AFI seperti di album Sing the Sorrow atau The Art of Drowning. Malah, saya sempat berprediksi mereka kembali ke akar hardcore Black Sails in the Sunset. Semua prediksi dan harapan pupus: mereka hadir dengan tempo menengah ke bawah, penuh loop dan sampling elektronik. Mungkin saya kecewa sebagai penikmat punk rock, tetapi kalau melihat AFI sebagai sebuah embrio baru post-punk ternyata album ini cukup catchy.
Untuk porsi “keras” Kill Caustic dan Miss Murder yang anthemic adalah pilihan yang tepat sebagai obat rindu. The Interview dan Love like Winter adalah sebuah evolusi new-wave menurut pemahaman Davey Havoc dan rekan – rekannya. Sementara lagu – lagu lainnya kira – kira jatuh di antara dua dipol – dipol musikal tersebut. Karakternya, walau demikian, tetap sangat AFI sekali. Gitar Jade Puget yang jatuh bergantian di sesi melodi maupun harmoni, rhythm Hunter-Adam, serta tarikan pita suara yang sangat ikonik milik Davey Havoc.
Decemberunderground adalah musim dingin di sudut kota sunyi. Dimana kenangan – kenangan menusuk bulu kuduk hingga sumsum, membuatmu menggigil sambil berpikir untuk berbaring menikmati hamparan putih tanpa ujung. Sebuah kemarahan yang terselip di sela – sela perenungan, usaha pemberontakan yang ternyata tidak pernah lepas dari belenggu. Siapkan pilihan lagu di album ini untuk perjalananmu ke Antartika atau Alaska. Hmm mungkin kamu bisa sambil masukan ke tas yang sama: Aiden dan My Chemical Romance generasi The Black Parade.
Diarsipkan di bawah: Review

Precambrian is that stretch of geological time from the formation of the Earth itself to the start of the Cambrian period. This immensely long stretch of time – some four billion years or more – saw the formation of the Earth as a planetary body, including geosphere, atmosphere, and hydrosphere, as well as the appearance of the biosphere and hence the transformation of the Earth from a dead planet to a living one.
(http://www.palaeos.com/Timescale/Precambrian.htm)
Pada awalnya, saya sama sekali tidak menyangka sebuah band bernama The Ocean (www.theoceancollective.com) akan menghasilkan deru musik semacam ini. Nama yang asing bagi saya, dengan imaji yang sangat melenceng dari kebenaran. Betapa judul album bernuansa geologi semakin membuat saya salah mengira tentang musik band ini. Dorongan keingintahuan berhasil mengeluarkan umpatan penuh takjub dari mulut saya. Ini adalah sebuah masterpiece, mencuat dari disiplin doom/sludge metal bertemu lirik cerdas dan teknik musik di atas rata – rata.
Selamat berkenalan dengan The Ocean, sebuah band dari German. genre-nya adalah persilangan dari doom, sludge, post-metal, atau apapun kamu mau menyebut sebuah musik metal dengan beat yang cenderung lambat, riff – riff panjang berulang, komposisi yang luar biasa matang: rapat dan penuh. Komposisi musik adalah poin utama dari album ini. Suguhan musiknya begitu bervariasi, membawa visualisasi masa – masa awal penciptaan bumi dengan kebrutalan serta keteraturan alamiahnya menjadi begitu nyata, senyata sebuah perjalanan dengan mesin waktu.
Deretan judul yang sekilas cukup aneh. Semua menggunakan istilah – istilah geologi yang saya sukar pahami tanpa literatur penunjang. Coba saja amati deret judul seperti Hadean, Eoarchaean, Mesoarchaean, atau Calymmian. Walau demikian, saya melihat lirik – lirik metafor antara masa chaos dalam awal mula bumi dengan sebuah peradaban manusia modern. Kritik universal tentang hidup yang semakin korup tetapi mendamba sebuah keteraturan. Nature will find it’s balance, eh?
Musiknya adalah sebuah eksplorasi kemungkinan. Gaya yang sangat luas, meraup rakus bahkan hingga ke tatar jazz dan instrumental bersama string. Sampling – sampling elektronik di beberapa bagian, juga permainan ketukan yang dapat membuatmu tersandung apabila mengikuti iramanya. Keras, lembut. Kaotik, teratur. Pilihan personal? Ada baiknya kamu coba dengarkan lagu Paleoarchaean: Man & the Sea , Orosirian: For the Great Blue Cold Now Reigns, dan Mesoarchaean: Legions of Winged Octopi.
Album ini pasti akan kamu nikmati layaknya kamu mendengarkan Isis, Neurosis, Tool, atau Cult of Luna. Dengarkan saat pikiranmu sedang jernih dan otakmu dalam mode idealis, jangan lupa tabahkan hati untuk melakukan apresiasi yang hakiki. Jangan gunakan musik semacam ini untuk menjual album rekaman atau mengincar ketenaran.
Diarsipkan di bawah: Video
Film pendek yang ternyata bercerita lebih banyak dari yang ditampilkan. Visualisasi kelam dari sebuah dunia dalam imaji sang sutradara, tentang bagaimana caranya melupakan kenangan buruk dalam hidup. Betapa kita selalu terjebak dalam berhenti mengingat rasa sakit hanya untuk merasakan rasa sakit yang lain.









