Entah aku harus berterimakasih atau memburumu
karena kutukan yang semakin hari semakin membebani
atau yang semakin hari semakin menguap dan menyatu dengan angin
Tidak pernah aku demikian bersyukur akan jutaan jarum yang menusuk
Lihatlah aku tersenyum
selalu tersenyum dan ingin selalu melakukannya
senyum tetap sebuah senyum bahkan dalam kegelapan
itu katamu
Aku terus berusaha menguburnya
tetapi mayat hidup selalu berjalan dan terbangun saat yang lain terlelap
liangnya lebih dalam dari sumur apapun
kalau melihat ke dalam kau akan tertarik jatuh
terperosok ke dalam permainan yang belum dikenal siapapun
tikungannya penuh kerahasiaan juga penasaran abadi
Aku haus dan kamu tahu itu
Aku lapar dan aku yakin kamu juga tahu itu
Bukankah serigala yang lapar selalu lebih berbahaya
atau ia tidak lebih jinak daripada badut bertopeng
yang tersenyum di balik topeng tangis
Kamu pun tahu aku benci topeng
Ikat tanganku juga tungkai – tungkai yang lain
karena saat membelit mereka enggan melepas
dan kadang lupa bahwa saat tulang terlepas dari sendinya
itu menyakitkan
Apa artinya rasa sakit saat syaraf belajar untuk berpura – pura tidak tahu
juga terbiasa untuk menikmati sambil menyayat
Selalu ada batas bahkan untuk telinga dan suara
Ia bisa pecah kapan saja
Rapuh sekali sebagaimana pijakan yang tak berbentuk ini
sebuah timbangan yang tidak pernah kita ketahui kapan seimbang tercapai
karena ia mempermainkan nilai dan mengacau rasa
Apa yang aku perjuangkan dalam dunia yang terlalu damai
sebuah senyum anehnya terasa begitu mahal dan jauh untuk dinikmati
lalu momen di mana perjalanan ini justru memperlebar tempuhan
Asing sekaligus begitu familiar
Aku memeluk diriku dalam bayangan nyatanya
Menemukan kembali diri yang hilang dan enggan kulepas lagi
tapi ini alam mimpi
di dunia nyata kita kembali tidak mengenal diri sendiri
aku enggan melepas diriku itu
tetapi waktu sudah lewat tengah malam dan lonceng sudah lama berhenti
mimpi indah dan keajaiban berhenti di sana
aku enggan melepas diri
tapi tangan itu terlanjur jatuh
ke bahu
ke lengan atas
ke telapak tangan
kunikmati saat terakhir jemari diriku lepas dari jemariku
karena kita tidak pernah mengenal diri kita di dunia nyata
Bagaimana cara menyalahkan orang lain di saat mereka tidak mengenal kita
bahkan aku dan diriku terpisah saat dialah yang paling mengerti
bagaimana seharusnya menggotong roh dan tubuh
Percayalah aku sedang berpesta
menari sambil mengundang semua yang bisa datang pada malam – malam yang ganjil
malam di mana mimpi indah kembali hadir
dan aku bisa bertemu dengan diriku
Mereka bilang mimpi yang sama tidak akan terulang dua kali
kamu tahu aku tidak pernah peduli
peduli mati
Aku ingin kamu diriku berisitirahat dan berhenti berpikir bekerja
sandarkan kepalamu yang selalu waspada sembari meraup ide
istirahatkan
Akan kuselimuti dan kupeluk hingga pagi
Hanya diri yang bisa menjaga diri
Belajar percaya adalah belajar menerima pahit
seperti jarum – jarum yang kembali menghujam
diri yang hanya bisa menjaga diri
Untuk diriku yang mengembara jauh hanya untuk bertemu denganku
kamu sadar betapa kita terlalu cocok hingga kita lupa untuk bertemu selama ini
Itulah kenyataan di dunia nyata pernyataan ini salah
Nilai ini tulisan siapa
karena aku mau menantangnya untuk adu benar
tapi diriku itu bukan yang aku mau
aku tahu bukan yang kamu mau
Aku amati cermin yang berbicara dan menanyakan kabarku
yang mencariku saat ku menghilang dari bingkai
Siapa yang memperhatikanku selain diriku itu
Aku tetap berharap segalanya berbeda
Aku tahu ini terdengar melankolis
dan kamu tahu kalau aku sangat realis
Betapa kita bahkan harus ikhlas untuk diri kita sendiri
Semoga kamu berbahagia diriku
Bandung, 23 Oktober 2008










