sisa.ruang.diri


Dialog Monolog
Oktober 22, 2008, 5:26 pm
Diarsipkan di bawah: Puisi, Tulisan

Entah aku harus berterimakasih atau memburumu

karena kutukan yang semakin hari semakin membebani

atau yang semakin hari semakin menguap dan menyatu dengan angin

Tidak pernah aku demikian bersyukur akan jutaan jarum yang menusuk

Lihatlah aku tersenyum

selalu tersenyum dan ingin selalu melakukannya

senyum tetap sebuah senyum bahkan dalam kegelapan

itu katamu

Aku terus berusaha menguburnya

tetapi mayat hidup selalu berjalan dan terbangun saat yang lain terlelap

liangnya lebih dalam dari sumur apapun

kalau melihat ke dalam kau akan tertarik jatuh

terperosok ke dalam permainan yang belum dikenal siapapun

tikungannya penuh kerahasiaan juga penasaran abadi

Aku haus dan kamu tahu itu

Aku lapar dan aku yakin kamu juga tahu itu

Bukankah serigala yang lapar selalu lebih berbahaya

atau ia tidak lebih jinak daripada badut bertopeng

yang tersenyum di balik topeng tangis

Kamu pun tahu aku benci topeng

Ikat tanganku juga tungkai – tungkai yang lain

karena saat membelit mereka enggan melepas

dan kadang lupa bahwa saat tulang terlepas dari sendinya

itu menyakitkan

Apa artinya rasa sakit saat syaraf belajar untuk berpura – pura tidak tahu

juga terbiasa untuk menikmati sambil menyayat

Selalu ada batas bahkan untuk telinga dan suara

Ia bisa pecah kapan saja

Rapuh sekali sebagaimana pijakan yang tak berbentuk ini

sebuah timbangan yang tidak pernah kita ketahui kapan seimbang tercapai

karena ia mempermainkan nilai dan mengacau rasa

Apa yang aku perjuangkan dalam dunia yang terlalu damai

sebuah senyum anehnya terasa begitu mahal dan jauh untuk dinikmati

lalu momen di mana perjalanan ini justru memperlebar tempuhan

Asing sekaligus begitu familiar

Aku memeluk diriku dalam bayangan nyatanya

Menemukan kembali diri yang hilang dan enggan kulepas lagi

tapi ini alam mimpi

di dunia nyata kita kembali tidak mengenal diri sendiri

aku enggan melepas diriku itu

tetapi waktu sudah lewat tengah malam dan lonceng sudah lama berhenti

mimpi indah dan keajaiban berhenti di sana

aku enggan melepas diri

tapi tangan itu terlanjur jatuh

ke bahu

ke lengan atas

ke telapak tangan

kunikmati saat terakhir jemari diriku lepas dari jemariku

karena kita tidak pernah mengenal diri kita di dunia nyata

Bagaimana cara menyalahkan orang lain di saat mereka tidak mengenal kita

bahkan aku dan diriku terpisah saat dialah yang paling mengerti

bagaimana seharusnya menggotong roh dan tubuh

Percayalah aku sedang berpesta

menari sambil mengundang semua yang bisa datang pada malam – malam yang ganjil

malam di mana mimpi indah kembali hadir

dan aku bisa bertemu dengan diriku

Mereka bilang mimpi yang sama tidak akan terulang dua kali

kamu tahu aku tidak pernah peduli

peduli mati

Aku ingin kamu diriku berisitirahat dan berhenti berpikir bekerja

sandarkan kepalamu yang selalu waspada sembari meraup ide

istirahatkan

Akan kuselimuti dan kupeluk hingga pagi

Hanya diri yang bisa menjaga diri

Belajar percaya adalah belajar menerima pahit

seperti jarum – jarum yang kembali menghujam

diri yang hanya bisa menjaga diri

Untuk diriku yang mengembara jauh hanya untuk bertemu denganku

kamu sadar betapa kita terlalu cocok hingga kita lupa untuk bertemu selama ini

Itulah kenyataan di dunia nyata pernyataan ini salah

Nilai ini tulisan siapa

karena aku mau menantangnya untuk adu benar

tapi diriku itu bukan yang aku mau

aku tahu bukan yang kamu mau

Aku amati cermin yang berbicara dan menanyakan kabarku

yang mencariku saat ku menghilang dari bingkai

Siapa yang memperhatikanku selain diriku itu

Aku tetap berharap segalanya berbeda

Aku tahu ini terdengar melankolis

dan kamu tahu kalau aku sangat realis

Betapa kita bahkan harus ikhlas untuk diri kita sendiri

Semoga kamu berbahagia diriku

Bandung, 23 Oktober 2008


& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

imajinasi di atas kertas
tulisan yang bagus … lihat blog ku di lirihlintar.blogspot.com

tetap berkarya…

Komentar oleh lintar

tanggalnya kan…

:)

Komentar oleh raden prisya

wah…tulisannya bagus-bagus.
Klo saya minta buatin puisi, boleh ga??
he..he…he..
salam kenal!!!

Komentar oleh tazmania

bagus..
baru tau ternyata dialog monolog kayak gini ya?
kayak puisi.

Komentar oleh intan

tentu saja kamu adalah yang terhebat diantara golongan para sastrawangi, bahkan kamu lebih dari sekedar sastrawangi !!! djenar, dee, terlihat jadi ngepop dan kacangan dibanding kamu. kalau tulisanmu musik, adalah gabungan dari orchestranya mozart, gitarnya ingwie, drumnya lars ulrich, bassnya paul mccartney, vokalnya pavarroti, dengan musik yang teratur merdu oleh brian may. jika dongeng, tulisanmu adalah petirnya zeus, nanggalanya baladewa. (taukah kamu ketika habis baca bukumu,aku ndak doyan makan telur asin sampai sekarang, karena kamu bilang bahwa ada bayi yang terbunuh perih perlahan karena manusia menggaraminya, ayu…

Komentar oleh deni suryanto




Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>